Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Imbal Hasil Obligasi Negara Dekati 7 Persen, Apa Cukup Mengkhawatirkan?

Tekanan pada yield SUN diperkirakan akan berlangsung hingga akhir April 2022 menjelang rapat FOMC yang akan dilangsungkan pada 3-4 Mei mendatang.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 12 April 2022  |  22:13 WIB
Imbal Hasil Obligasi Negara Dekati 7 Persen, Apa Cukup Mengkhawatirkan?
Karyawan beraktivitas di salah satu kantor sekuritas, Jakarta. - JIBI/Abdullah Azzam
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Tingkat imbal hasil (yield) Surat Utang Negara (SUN) Indonesia semakin mendekati level 7 persen belakangan ini. Namun analis masih optimistis yield tersebut akan perlahan turun pada akhir tahun ini. 

Chief Economist Bank Permata Josua Pardede memperkirakan saat ini pasar surat berharga negara (SBN) alias SUN domestik masih akan mengalami tekanan seiring dengan tren kenaikan yield US Treasury.

Adapun Josua mengungkapkan mulai akhir Maret tercatat bahwa yield US Treasury naik hingga 45 basis poin (bps) yang kemudian juga mendorong kenaikan yield SUN hingga 15 bps.

Berdasarkan data dari World Government Bonds pada Selasa (12/4/2022), tercatat tingkat imbal hasil SUN Indonesia telah menembus level 6,98 persen.

“Meskipun demikian, kenaikan yield SUN relatif rendah dibandingkan dengan kenaikan yield obligasi di negara lainnya, seperti Australia, Singapura, Korea, dan Eropa, yang naik melebihi 20 basis poin,” ungkap Josua kepada Bisnis, Selasa (12/4/2022).

Di sisi lain, Josua menyatakan pergerakan yield dari negara ASEAN juga relatif mirip, misalnya yield dari obligasi Malaysia dan Thailand, yang masing-masing naik 14 bps dan 11 bps.

Josua berpendapat, yang menjadi pendorong kenaikan yield US Treasury adalah ekspektasi kebijakan yang hawkish dari The Fed. Di mana dalam FOMC minutes yang dirilis minggu lalu, terlihat bahwa para anggota FOMC bersiap mengimplementasi kebijakan yang hawkish.

Kebijakan tersebut dipercaya sebagai peredam tekanan inflasi di Amerika Serikat, yang tercatat tinggi.

Oleh sebab itu, tekanan yield ini diperkirakan Josua akan berlangsung hingga akhir April 2022 menjelang rapat FOMC yang akan dilangsungkan pada 3-4 Mei mendatang.

Sementara itu, pergerakan credit default swap (CDS) Indonesia hari ini naik mencapai 99,98, dan cenderung mengalami kenaikan sejak minggu lalu. Jika risiko sentimen tidak membaik baik dari sentimen geopolitik maupun pengetatan kebijakan moneter AS, maka yield SUN menurut Josua berpotensi menembus level 7,0 persen.

“Namun, setelah sentimen tersebut, diperkirakan yield SUN akan secara gradual turun, hingga pada akhir tahun akan berada pada range 6,75 persen - 6,95 persen,” ujar Josua.

Josua juga memperkirakan permintaan lelang SUN di bulan ini akan cenderung lebih rendah dibandingkan dengan permintaan pada awal tahun karena sentimen negatif di pasar keuangan global.

Selain itu, pergerakan yield yang saat ini cenderung naik, katanya secara umum akan berdampak negatif pada permintaan di lelang SBN, baik konvensional maupun syariah.

Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto secara terpisah juga mengungkapkan hal serupa. adanya sentimen global saat ini menyebabkan kenaikan yield SUN dan membuat para pelaku pasar cenderung hati-hati.

“Saya melihat investor domestik kita sebagai tuan rumah akan menopang pasar kita. Dan kalau di luar sudah mulai stabil akan memancing dana asing yang sempat keluar masuk kembali Indonesia,” ungkap Ramdhan saat dihubungi Bisnis, Selasa (12/4/2022).

Dia berpendapat bahwa yield SUN Indonesia menarik dibandingkan negara lain ditambah juga dengan likuiditas yang baik. Oleh sebab itu, Ramdhan masih memproyeksikan yield SUN di akhir tahun berada dalam level 6,8 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi Kebijakan The Fed surat utang negara Obligasi Pemerintah pasar obligasi
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top