Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pendapatan Cisadane Sawit Raya (CSRA) Tumbuh Dobel Digit, Intip Pendorongnya

Kenaikan harga CPO menjadi berkah bagi Cisadane Sawit Raya
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 03 April 2022  |  18:15 WIB
Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, di Petajen, Batanghari, Jambi, Jumat (11/12/2020). Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memperkirakan nilai ekspor kelapa sawit nasional tahun 2020 yang berada di tengah situasi pandemi Covid-19 tidak mengalami perbedaan signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 20,5 miliar dolar AS atau dengan volume 29,11 juta ton. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan
Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit, di Petajen, Batanghari, Jambi, Jumat (11/12/2020). Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) memperkirakan nilai ekspor kelapa sawit nasional tahun 2020 yang berada di tengah situasi pandemi Covid-19 tidak mengalami perbedaan signifikan dibanding tahun sebelumnya yang mencapai sekitar 20,5 miliar dolar AS atau dengan volume 29,11 juta ton. ANTARA FOTO - Wahdi Septiawan

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten sawit PT Cisadane Sawit Raya Tbk. (CSRA) mencatatkan pendapatan sebesar Rp895,87 miliar sepanjang 2021 atau naik 47,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.

Kenaikan pendapatan CSRA tidak lepas dari tren positif harga jual rata-rata (ASP) produk kelapa sawit serta naiknya volume produksi tandan buah segar (TBS) dan inti sawit (palm kernel/PK).

Direktur Keuangan & Pengembangan Strategis CSRA Seman Sendjaja menjelaskan bahwa harga jual rata-rata CPO, TBS, dan PK pada 2021 meningkat masing-masing 36 persen, 47 persen, dan 63 persen dibandingkan dengan 2020.

Volume produksi TBS tercatat naik 8,1 persen YoY, dari 295.125 ton pada 2020 menjadi 319.071 pada 2021. Selanjutnya, produktivitas TBS terjaga di angka 23,5 ton per hektare dari hanya 19,30 ton per hektare pada 2020.

“Dengan profil usia perkebunan yang tergolong ideal, mayoritas berada pada usia produksi prima yaitu di bawah 18 tahun, CSRA memiliki tren pertumbuhan produksi yang positif secara jangka panjang. Di samping itu, penerapan strategi perusahaan dalam merebut momentum harga dan peluang juga menjadi faktor penentu,” kata Seman dalam keterangan resmi yang dikutip Minggu (3/4/2022).

Laba kotor dari CSRA sepanjang 2021 tercatat meningkat 90,9 persen menjadi Rp507,73 miliar, sementara pada 2020 sebesar Rp 265,93 miliar.

Margin kotor CSRA juga naik menjadi 56,6 persen, dari 43,8 persen pada 2020. Hal ini tak lepas dari peningkatan beban pokok penjualan yang ditekan di angka 13,9 persen YoY, lebih rendah dari kenaikan pendapatan.

Operasional yang dikelola secara efektif membuat laba usaha pada 2021 meningkat menjadi Rp388,55 miliar atau 163,0 persen lebih tinggi dibandingkan dengan 2020 sebesar Rp147,72 miliar.

Efisiensi juga mengantarkan CSRA pada laba bersih yang naik 314,1 persen, dari Rp62,85 miliar pada 2020 menjadi Rp260,26 miliar pada 2021.

“Pencapaian profitabilitas yang solid tersebut merefleksikan implementasi kontrol biaya yang dilaksanakan CSRA telah berjalan sangat baik,” lanjut Seman.

Sementara itu, total aset CSRA per 31 Desember 2021 berjumlah Rp1,75 triliun atau, lebih tinggi dari akhir 2020 sebesar Rp1,39 triliun. Total liabilitas berada di angka Rp971,94 miliar, meningkat dibandingkan akhir 2020 Rp826,29 miliar.

Posisi ekuitas berada di Rp781,29 miliar per 31 Desember 2021, meningkat dibandingkan dengan posisi 31 Desember 2020 sebesar Rp572,28 miliar. Adapun, posisi kas dan setara kas pada akhir tahun mencapai Rp365,50 miliar, meningkat drastis dari posisi akhir 2020 sebesa Rp41,85 miliar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sawit minyak sawit Kinerja Emiten harga cpo
Editor : M. Nurhadi Pratomo

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top