Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indocement (INTP) Sesuaikan Harga Jual Produk untuk Kurangi Tekanan Harga Energi

Kenaikan harga komoditas seperti batu bara menekan beban operasional Indocement (INTP).
Iim Fathimah Timorria
Iim Fathimah Timorria - Bisnis.com 25 Maret 2022  |  19:22 WIB
Pabrik semen milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.
Pabrik semen milik PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk.

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten produsen semen PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) memutuskan untuk menaikkan harga jual produk di kisaran 6 sampai 8 persen, seiring dengan makin besarnya biaya produksi akibat kenaikan harga energi.

Direktur Utama Indocement Christian Kartawijaya mengatakan kenaikan harga telah dilakukan perusahaan sejak pertengahan Maret 2022, baik untuk semen curah maupun semen kantong. Namun, Indocement belum melihat dampak lebih lanjut dari keputusan ini.

“Kami naikkan karena biaya energi sudah naik begitu tinggi. Kenaikan ini sebenarnya belum cukup [mengimbangi], tetapi kami tahu dengan kondisi pasar yang oversupply, situasi akan cukup sulit bagi konsumen untuk menyerap semua kenaikan beban biaya tadi,” kata Christian dalam konferensi pers virtual, Jumat (25/3/2022).

Membengkaknya beban energi tecermin dari laporan keuangan perusahaan. Meski pendapatan pada 2021 naik 4,14 persen menjadi Rp14,7 triliun, perusahaan juga menghadapi kenaikan beban pokok pendapatan sebesar 6,34 persen dari Rp9,07 triliun menjadi Rp9,6 triliun secara tahunan.

Dalam laporan keuangannya, Indocement menekan hampir seluruh pos beban pokok pendapatan, kecuali beban bahan bakar dan listrik yang meningkat cukup signifikan. Beban bahan bakar dan listrik meningkat 25,2 persen, dari Rp3,4 triliun pada 2020 menjadi Rp4,3 triliun di 2021.

Demi keberlangsungan bisnis yang lebih sehat ke depannya, Christian berharap Indocement bisa segera menerima pasokan batu bara dalam skema domestic market obligation (DMO) US$90 per ton, padahal skema yang telah berlaku sejak November 2021 tersebut akan berakhir pada 31 Maret 2022.

“Berkenaan dengan DMO, INTP masih negosiasi. Sebagian besar kontrak kami masih punya ruang negosiasi. Hanya 1 sampai 2 kontrak kami yang masih memakai harga kontrak lama, itu pun banyak expired. Saya mendapat kabar dari Kementerian ESDM sudah memutuskan untuk memfasilitasi agar pabrik semen dan supplier punya kontrak setahun. Saya kira itu sangat baik, kami tunggu implementasi konkret,” kata dia.

Selain melakukan penyesuaian harga jual, INTP juga terus meningkatkan porsi energi alternatif dalam operasional untuk menekan biaya. Christian mengatakan INTP telah meningkatkan pemakaian bahan bakar alternatif dari semula 9,3 persen pada 2020 menjadi 12,2 persen pada 2021.

INTP juga melakukan peningkatan penggunaan batu bara berkalori rendah atau low calorific value (LCV) dari semula 80 persen menjadi 88 persen.

“Untuk tahun 2022 kami mencoba menaikkan penggunaan bahan bakar alternatif sebesar 2 persen sampai 4 persen untuk memitigasi kenaikan harga energi. Kami juga mengendalikan dengan lebih baik biaya tetap kami, beberapa fixed cost kami potong dan biaya capex juga lebih hemat untuk menghadapi tekanan biaya energi yang lebih besar,” kata Christian.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indocement batu bara intp harga komoditas indocement tunggal prakarsa
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top