Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pungutan Ekspor CPO Naik, Austindo (ANJT) Akan Evaluasi Harga Jual

Direktur Utama ANJT Lucas Kurniawan mengatakan kenaikan pungutan ekspor sebesar US$200 per ton berpotensi memengaruhi koreksi harga jual CPO di dalam negeri.
Aktivitas di perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT). Istimewa
Aktivitas di perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT). Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya Tbk. (ANJT) melakukan evaluasi terhadap harga jual minyak sawit mentah (CPO) dan harga beli tandan buah segar (TBS) sawit, seiring dengan berubahnya batas atas harga yang menjadi acuan pengenaan tarif progresif ekspor sawit alias pungutan ekspor (PE).

Sebagaimana diketahui, pemerintah memutuskan untuk menaikkan batas atas (ceiling price) pengenaan pungutan ekspor maksimal dari US$1.000 per ton CPO menjadi US$1.500 per ton melalui penerbitan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 23/PMK.05/2022.

Dengan perubahan batas atas ini, tarif maksimum ekspor yang semula flat US$175 per ton ketika harga CPO di atas US$1.000 per ton, akan bertambah secara progresif sampai menyentuh batas harga terbaru US$1.500 per ton. Adapun besaran pungutan ekspor maksimum kini dipatok US$375 per ton.

Direktur Utama ANJT Lucas Kurniawan mengatakan kenaikan pungutan ekspor sebesar US$200 per ton berpotensi memengaruhi koreksi harga jual CPO di dalam negeri.

“Kenaikan pungutan tersebut dapat dipahami, hal ini karena hasil pungutan direncanakan akan digunakan sebagai subsidi harga minyak goreng curah,” kata Lucas kepada Bisnis, Sabtu (19/3/2022).

Namun, lanjutnya, kenaikan tarif yang cukup signifikan dan berlaku efektif dalam waktu relatif singkat juga berpotensi menyebabkan koreksi harga beli TBS dari petani secara signifikan. Pada 2021, sekitar 34,12 persen TBS yang dikelola ANJT berasal dari pembelian pihak ketiga yakni sebesar 434.123 ton.

“Saat ini, kami masih mengevaluasi besaran koreksi terhadap harga jual CPO dan harga beli TBS, dikarenakan kebijakan baru berlaku,” tambahnya.

Lucas menambahkan bahwa sejak akhir 2021 ANJT menjual seluruh produk CPO yang diproduksi ke pasar dalam negeri guna mendukung pemenuhan pasokan domestik. Dia mengatakan perusahaan akan mengevaluasi kemungkinan penjualan ekspor setelah mempertimbangkan sejumlah faktor secara menyeluruh, termasuk faktor komersial.

Perseroan mencatat kenaikan beban usaha (bersih setelah pendapatan usaha) sebesar 69,9 persen dari USS$22,5 juta pada 2020 menjadi US$38,2 juta karena peningkatan beban penjualan. Peningkatan ini disebabkan oleh kenaikan pungutan ekspor dari hanya US$55 per ton pada Juni 2020 menjadi US$200 per ton pada 2021 sejalan dengan kenaikan harga CPO dunia.

Terlepas dari kenaikan beban ini, perusahaan yang juga memproduksi sagu tersebut berhasil menorehkan kinerja positif imbas dari tingginya harga minyak sawit mentah.

Laba bersih perusahaan tercatat naik 1.604 persen atau 18 kali lipat dari hanya US$2,34 juta atau sekitar Rp33,57 miliar menjadi US$40,02 juta atau sekitar Rp572,36 miliar sepanjang 2021. Volume penjualan CPO naik sebesar 11,6 persen dan harga jual rata-rata CPO meningkat sebesar 38 persen.

Kenaikan laba bersih tersebut mendorong kenaikan EBITDA dari US$34,3 juta pada 2020 menjadi US$87,2 juta pada 2021. Sementara itu, margin EBITDA naik dari 20,9 persen menjadi 32,7 persen.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper