Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mengapa Bitcoin Gagal Jadi Safe Haven di Tengah Perang Rusia dan Ukraina?

Bitcoin, yang semula digadang-gadang jadi aset safe haven, justru bergerak lesu di tengah memanasnya perang Rusia dan Ukraina. Mengapa?
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 12 Maret 2022  |  10:16 WIB
Mengapa Bitcoin Gagal Jadi Safe Haven di Tengah Perang Rusia dan Ukraina?
Ilustrasi aset kripto Bitcoin, Ether, dan Altcoin - Istimewa
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejak kemunculannya, Bitcoin sebagai aset kripto tertua kerap dikampanyekan para simpatisannya sebagai aset lindung nilai (hedging) dan safe haven. Namun, kenyataannya nilai aset ini justru terus turun di tengah meletusnya perang antara Rusia dan Ukraina.

Sebagai konteks, hingga pukul 09.30 pagi hari ini (12/3) Coinmarketcap mencatat harga Bitcoin berada pada kisaran US$39.195 atau Rp561,5 juta per keping (kurs Rp14.327 per US$). Nilai ini merepresentasikan tren penurunan harga 10,43 persen dalam sebulan terakhir.

Padahal, krisis sedang menjamur. Selain perang yang mengubah peta suplai komoditas global, lonjakan signifikan inflasi di AS juga membuat kebutuhan terhadap aset hedging semakin tinggi.

Menurut profesor legal dan etika bisnis University of Pennsylvania Kevin Werbach, gagalnya Bitcoin jadi safe haven tidak terlepas dari bergesernya niat para investor peminat dalam 1-2 tahun terakhir Webach melihat bahwa sejak kedatangan pandemi, jumlah spekulan yang “berjudi” dengan memborong Bitcoin semakin banyak.

Spekulan-spekulan itu pula yang kemudian disebut Werbach mengubah tujuan utama Bitcoin.

“Retorika awal yang mengiringi Bitcoin adalah kelebihan aset ini untuk membebaskan diri dari sistem uang fiat seperti halnya emas. Namun, mayoritas aktivitas perdagangan justru didominasi oleh orang-orang yang berspekulasi,” kata Webach, dikutip dari New York Times.

Analis Bloomberg Joe Weisenthal punya sudut pandang pelengkap.

Selain faktor yang telah disebut Webach, Weisenthal menilai bahwa penolakan dari banyak negara masih menjadi hambatan utama. Sebab, penolakan-penolakan ini disebutnya membuat setiap katalis yang seharusnya menguntungkan nilai Bitcoin justru menjadi pisau bermata dua.

“Setiap berita bagus terhadap Bitcoin, setelahnya selalu diiringi berita buruk karena berita baru tersebut pasti membuat pemerintah di berbagai negara mengambil sikap tegas.”

Sam Bankman-Fried, CEO platform perdagangan kripto FTX, punya sudut pandang sedikit berbeda.

Bankman-Fried meyakini volatilitas Bitcoin di tengah perang belum bisa disimpulkan sebagai bukti kegagalan aset ini sebagai sarana lindung nilai.

Menurut Bankman-Fried, sejak awal Bitcoin memang tidak didesain untuk menjadi aset lindung di tengah konflik geopolitik. Bankman-Fried yakin kelak Bitcoin akan memainkan peran hedging-nya apabila krisis yang terjadi lebih minim intervensi politik.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Rusia Ukraina bitcoin aset kripto
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top