Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ini Penyebab Harga Komoditas Melonjak, Bukan Cuma Invasi Rusia ke Ukraina

Harga komoditas mengalami kenaikan bukan hanya disebabkan oleh Rusia menginvasi Ukraina. Namun sanksi yang berlebihan dilakukan oleh AS, Uni Eropa, dan Inggris terhadap Rusia.
Warga berlindung di stasiun kereta bawah tanah setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan operasi militer di Ukraina timur, di Kyiv, Ukraina, Kamis (24/2/2022). REUTERS/Viacheslav Ratynskyi
Warga berlindung di stasiun kereta bawah tanah setelah Presiden Rusia Vladimir Putin mengizinkan operasi militer di Ukraina timur, di Kyiv, Ukraina, Kamis (24/2/2022). REUTERS/Viacheslav Ratynskyi

Bisnis.com, JAKARTA – Invasi Rusia ke Ukraina membawa berkah tersendiri bagi negara-negara penghasil komoditas, salah satunya China, Indonesia, Australia dan Malaysia.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memproyeksikan harga emas pada Maret 2022 bisa menyentuh US$2.150 per troy ons, minyak mentah WTI bisa menyentuh US$200 per barel, batu bara US$600 per ton, gas alam US$5.500, minyak CPO RM7.500 per ton, Indeks dolar AS tembus 105, dan Bitcoin tembus US$45,000 per koin.

Menurutnya, kenaikan harga komoditas dilakukan sebagai umpan bagi para spekulan untuk menjatuhkan negara-negara yang memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan Belarusia.

“Karena yang membuat harga komoditas mengalami kenaikan bukan disebabkan oleh Rusia menginvasi Ukraina. Namun sanksi yang berlebihan dilakukan oleh AS, Uni Eropa, dan Inggris terhadap Rusia dan Belarusia,” jelasnya, Senin (7/3/2022).

Pascasanksi ekonomi diterapkan, para spekulan di pelbagai negara melakukan aksi beli yang tak terbatas, membuat lonjakan harga komoditas yang tak wajar dan ini sebenarnya menjadi serangan telak bagi negara-negara yang memberikan sanksi ekonomi terhadap Rusia dan Belarusia.

“Tanpa adanya ikut campur pihak ketiga, harga komoditas tidak mungkin mengalami lonjakan yang signifikan. Apalagi sekutu Rusia yaitu China yang kemungkinan akan mengikuti jejak Rusia akan melakukan invasi terhadap Taiwan,” tambahnya.

Selain itu, Korea Utara juga sudah berancang-ancang untuk menginvasi Korea Selatan. Ini semua dampak AS, NATO, dan Inggris yang terlalu gegabah dalam memberikan sanksi ekonomi.

Disamping itu, dengan lonjakan harga yang terus naik, Bank Sentral Amerika (The Fed) dalam pertemuan di tanggal 15 Maret 2022 kemungkinan akan menahan suku bunga sampai perang benar-benar sudah berhenti.

Dampak dari sanksi tersebut membuat harga-harga komoditas seperti minyak mentah, emas, gas alam, batubara, nikel dll lainnya mengalami kenaikan yang tidak wajar.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Mutiara Nabila
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper