Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Dibuka Melemah, Tensi Rusia-Ukraina Makin Panas

Sentimen geopolitik kembali memanas setelah para pejabat AS mengatakan mereka memperkirakan Rusia telah membangun sekitar 190.000 personel militer di dekat Ukraina.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 18 Februari 2022  |  22:18 WIB
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle
Pekerja berada di lantai Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS, Senin (3/1/2021). Bloomberg - Michael Nagle

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) mengawali perdagangan Jumat (18/2/2022) waktu setempat ke zona merah merespons ketegangan geopolitik Rusia-Ukraina.

Berdasarkan data Bloomberg pada 21.31 WIB, Indeks Dow Jones Industrial Average dibuka melemah 0,27 persen atau 92,82 poin ke 34.219,21, S&P 500 anjlok 0,14 persen atau 6,29 poin ke 4.373,97, dan Nasdaq tenggelam 0,30 persen atau 40,57 poin ke 13.676,15.

Indeks Volatilitas CBOE (VIX), atau ‘pengukur ketakutan’, melonjak kembali di atas 28 pada Jumat pagi waktu AS.

Sentimen geopolitik kembali memanas setelah para pejabat AS mengatakan mereka memperkirakan Rusia telah membangun sekitar 190.000 personel militer di dekat Ukraina, meningkatkan momok serangan jangka pendek. Ini terjadi sehari setelah Presiden Joe Biden mengatakan kepada wartawan pada Kamis (17/2/2022) bahwa ancaman invasi Rusia ke Ukraina sangat tinggi dalam beberapa hari mendatang.

Harga minyak mentah turun pada Jumat pagi untuk menghentikan kenaikan baru-baru ini bahkan ketika ketegangan Rusia-Ukraina muncul kembali.

"Dua hal yang paling kami khawatirkan saat ini dalam hal hambatan pasar dan penyebab volatilitas, jelas merupakan ketegangan dengan Rusia-Ukraina ... untuk inflasi itu akan terjadi,” kata Art Hogan, kepala strategi pasar Nasional, kepada Yahoo Finance Live.

Imbal hasil obligasi pemerintah AS tergelincir lebih jauh setelah turun melintasi kurva pada Kamis, dengan imbal hasil tenor 10 tahun tertahan di bawah 2 persen. Ini terjadi karena pasar memperkirakan probabilitas yang lebih rendah dari kenaikan suku bunga 50 basis poin oleh Federal Reserve pada Maret mendatang.

Investor tampak mengabaikan komentar hawkish dari Presiden Fed St. Louis James Bullard yang menyerukan jalur suku bunga lebih agresif tahun ini.

Analis lain juga menggarisbawahi kekhawatiran ganda di sekitar Rusia dan Ukraina serta kebijakan The Fed untuk pasar dalam waktu dekat.

"Sungguh, ini tentang Rusia dan Ukraina, dan ini tentang The Fed. Di sisi geopolitik, saya pikir tantangan bagi investor adalah bahwa risiko geopolitik sangat sulit untuk ditimbang. Pandangan kami adalah bahwa kami belum berada dalam situasi di mana masuk akal untuk membuat pergerakan portofolio nyata berdasarkan ini. Maksud saya, saluran diplomatik masih terbuka, jadi situasinya masih berkembang secara teratur,” kata James Liu, pendiri dan CEO Clearnomics.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rusia wall street dow jones ukraina nasdaq

Sumber : Bloomberg/Yahoo Finance

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top