Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dibayangi Kenaikan Suku Bunga, Obligasi Korporasi Ungguli SBN Tahun Ini?

Infovesta memandang dampak kenaikan suku bunga di tahun 2022 akan minim ke pasar korporasi bahkan cenderung lebih stabil dibandingkan SBN.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 24 Januari 2022  |  11:21 WIB
Pialang berjalan di Gedung Bursa Efek Indonesia. - Bloomberg/Dimas Ardian
Pialang berjalan di Gedung Bursa Efek Indonesia. - Bloomberg/Dimas Ardian

Bisnis.com, JAKARTA – Minat investor terhadap obligasi korporasi mengalami kenaikan pada tahun ini seiring dengan potensi kenaikan suku bunga The Fed dan pemulihan ekonomi yang berlanjut.

Laporan dari Infovesta Utama pada Senin (24/1/2022) menyebutkan, kinerja obligasi korporasi lebih unggul dibandingkan Surat Berharga Negara (SBN). Hal ini tercermin melalui Infovesta Corporate Bond Index yang naik sebesar 0,44 persen dan Infovesta Government Bond Index yang masih terkoreksi sebesar 0,10 persen.

“Stabilnya pergerakan harga obligasi korporasi didorong oleh pemulihan ekonomi yang mendorong membaiknya neraca keuangan perusahaan setelah mampu beradaptasi dengan pandemi,” demikian kutipan laporan tersebut.

Seiring dengan percepatan pengetatan likuiditas The Fed dan potensi kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebanyak 4 kali di 2022 serta inflasi dalam negeri yang terus merangkak naik, Bank Indonesia (BI) mulai melakukan pengetatan likuiditas yang dimulai dengan menaikkan tingkat Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan pada akhir kuartal I/2022. Hal tersebut diprediksi akan diikuti kenaikan tingkat suku bunga acuan sebanyak 2 kali pada 2022.

Suku bunga dalam negeri yang terjaga di level 3,5 persen dari Februari 2021 hingga kini, masih dimanfaatkan oleh pelaku usaha sebagai momentum dalam memperoleh pendanaan melalui penerbitan obligasi korporasi dengan cost of fund yang relatif lebih rendah.

“Aktivitas ekonomi yang terus mengalami perbaikan mendorong dunia usaha kembali menggencarkan aktivitas operasionalnya. Alhasil, penerbitan obligasi dalam negeri begitu masif,” demikian kutipan laporan tersebut.

Tercatat, penerbitan obligasi korporasi pada 2021 tumbuh cukup signifikan hingga 222,17 persen menjadi Rp205,77 triliun dengan kenaikan tertinggi pada kelompok peringkat paling aman (AAA +374,69 persen) dan penurunan tertinggi pada peringkat dengan risiko tinggi (BBB - 28,41 persem).

Hal tersebut memberikan banyaknya varian dan pilihan produk di pasar obligasi korporasi dengan tingkat imbal hasil dan risiko yang bervariasi tentunya.

Infovesta memandang dampak kenaikan suku bunga di tahun 2022 akan minim ke pasar korporasi bahkan cenderung lebih stabil dibandingkan SBN. Obligasi korporasi sebagai underlying asset atas reksa dana pendapatan tetap berpotensi mengalami kenaikan komposisi sebagai respon perubahan market.

“Tekanan tersebut juga diprediksi cukup terjaga pada kurs rupiah di level sekitar Rp14.500,” pungkasnya.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

sbn obligasi negara surat berharga negara infovesta utama
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top