Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rupiah Tak Bertenaga Lawan Dolar AS, Dibuka Melemah Rp14.364

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga melemah di hadapan greenback.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 19 Januari 2022  |  09:44 WIB
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati menunjukan uang Rupiah dan dolar AS di salah satu gerai penukaran mata uang asing di Jakarta, Minggu (7/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah dibuka dalam pelemahan pada perdagangan Rabu (19/1/2022).

Berdasarkan data Bloomberg, Rabu (19/1/2022) rupiah tertekan 28,5 poin atau 0,20 persen ke Rp14.364 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,03 persen ke 95,76.

Selain rupiah, mayoritas mata uang Asia juga melemah di hadapan greenback. Yen Jepang turun 0,06 persen, yuan China dan dolar Singapura cenderung mendatar, won Korea Selatan melemah 0,17 persen, dan ringgit Malaysia melemah 0,19 persen pada 09.31 WIB. 

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi memprediksikan hari ini rupiah akan dibuka berfluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp14.320 - Rp14.380.

"Investor sekarang menunggu keputusan kebijakan Federal Reserve AS, yang akan diturunkan pada 26 Januari 2022. Bank sentral telah mengindikasikan bahwa mereka dapat menaikkan suku bunga pada Maret 2022 untuk mengekang inflasi yang tinggi," jelasnya dalam riset harian, dikutip Rabu (18/1/2022).

Di Asia Pasifik, Bank of Japan mempertahankan suku bunganya tidak berubah pada -0,10 persen karena mengeluarkan keputusan kebijakannya pada hari sebelumnya.

Sementara itu, People's Bank of China (PBOC) memicu ekspektasi pelonggaran moneter lebih lanjut setelah menurunkan suku bunga pinjaman kebijakan satu tahun sebesar 10 basis poin menjadi 2,85 persen pada Senin dan juga memangkas suku bunga pada perjanjian pembelian kembali terbalik tujuh hari menjadi 2,1 persen dari 2,2 persen.

Pergerakan PBOC sangat kontras dengan serangkaian kenaikan suku bunga yang diharapkan secara luas dari The Fed dalam 2022.

Sementara itu, Bank sentral di Indonesia, Malaysia, Norwegia, Turki, dan Ukraina juga akan menjatuhkan keputusan kebijakan masing-masing pada Kamis (20/1/2022)

Di dalam negeri, Neraca Perdagangan Indonesia (NPI) pada 2021 mengalami surplus sebesar USD35,34 miliar. Ini artinya sepanjang 2021, tak sekalipun neraca perdagangan Indonesia defisit.

"Kalau dibandingkan dengan 2020, 2019, bahkan 2016, neraca perdagangan tahun 2021 adalah yang paling tinggi dalam 5 tahun terakhir," ungkapnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan ekspor pada Desember 2021 sebesar US$22,38 miliar atau tumbuh 35,30 persen (year-on-year/yoy). Sementara dibandingkan bulan sebelumnya ada penurunan 2,04 persen. Impor Desember mencapai US$21,36 miliar naik 47,93 persen yoy dan 10,52 persen mtm.

"Artinya surplus mencapai US$1,02 miliar. Surplus yang terjadi di Desember 2021 merupakan surplus selama 20 bulan beruntun," terangnya.

Sepanjang 2021, nilai ekspor mengalami peningkatan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode 2020. Nilai ekspor mencapai US$231,54 miliar, naik 41,88 persen dibandingkan 2020 yang sebesar US$163,19 miliar. Sedangkan untuk total impor mencapai US$196,20 miliar, meningkat 38,59 persen dibandingkan 2020 yang sebesar US$141,57 miliar.

Meski demikian, kinerja perdagangan internasional Indonesia (NPI) sepanjang 2021 patut diacungi jempol. Selama 2021, tidak pernah sebulan pun neraca perdagangan mengalami defisit. Kali terakhir neraca perdagangan berada di teritori negatif adalah pada April 2020.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as Rupiah nilai tukar rupiah
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top