Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sempat Melambung, Reli Harga Minyak Brent Tersendat Gara-gara PDB China

Struktur pasar minyak, bagaimanapun, telah menguat dalam pola bullish backwardation, menunjukkan peningkatan ketatnya pasokan
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 17 Januari 2022  |  11:25 WIB
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden
Kilang minyak lepas pantai di Skotlandia - Bloomberg/Jason Alden

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak Brent sempat naik tipis menuju level tertinggi intraday sejak 2014. Namun kenaikan ini tersendat lantaran rilis data ekonomi China, sebagai importir utama minyak mentah, yang melemah. 

Data Bloomberg pada 11.00 WIB menunjukkan, minyak Brent menguat 0,19 persen atau 0,16 poin ke US$86,22 per barel, sementara minyak WTI melonjak 0,49 persen atau 0,41 poin ke US$84,23.

Harga minyak berjangka di London, yang sebelumnya membatasi kenaikan mingguan keempat pada Jumat (14/1/2022), hari ini melonjak di awal perdagangan sesi Asia mendekati level tertinggi tujuh tahun sebelum memangkas kenaikan. Lonjakan ini menyusul rilis terbaru data ekonomi China.

Pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) China mereda pada kuartal terakhir, memberikan alasan bank sentral China memangkas suku bunga utamanya untuk pertama kali dalam hampir dua tahun.

Struktur pasar minyak, bagaimanapun, telah menguat dalam pola bullish backwardation, menunjukkan peningkatan ketatnya pasokan. Harga tinggi telah diafirmasi dan pasar berjangka bisa naik lebih jauh, menurut analis pedagang independen terkemuka Vitol Group.

Harga minyak telah reli lebih dari 10 persen sepanjang tahun ini, sebagian karena pemadaman di produsen OPEC+ termasuk Libya. Badan Energi Internasional mengatakan pekan lalu bahwa permintaan global ternyata lebih kuat dari yang diharapkan, sementara pasar fisik sedang booming karena pembeli menilai penyebaran omicron.

“Kompleks minyak telah menempatkan gelombang Covid terbaru dengan kuat di belakangnya. Meningkatnya kekurangan OPEC+ terhadap target output dan ancaman geopolitik yang memburuk terhadap pasokan mendukung sentimen bullish,” kata Vandana Hari, pendiri Vanda Insights di Singapura.

Kepala Divisi Asia Vitol Group, Mike Muller menjelaskan kebijakan Covid-Zero China mungkin akan memastikan bahwa tidak ada wabah omicron yang cukup besar untuk secara signifikan mengurangi penggunaan produk minyak di sana. "Kami sama sekali tidak melihat permintaan besar melanda di China," katanya.

Penyebaran Omicron dan varian virus lainnya masih berdampak di beberapa negara. Penjualan harian bensin dan solar India selama paruh pertama Januari masing-masing merosot sekitar 14 persen dari bulan lalu karena lonjakan kasus virus corona memotong pergerakan lalu lintas.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak harga minyak brent harga minyak mentah wti

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

To top