Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Arwana Citramulia (ARNA) Bisa Raup Penjualan Rp2,5 Triliun, Ini Rekomendasinya

RHB Sekuritas memproyeksikan penjualan ARNA akan mencapai Rp2,4 triliun di 2021 dan Rp2,57 triliun di 2022.
Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi - Bisnis.com 28 Desember 2021  |  04:00 WIB
Direktur Utama PT Arwana Citramulia Tbk. (ARNA) Tandean Rustandy saat berbincang dengan wartawan di wawancara akhir tahun Arwana Citramulia, Jakarta, Senin 29 November 2021 - Dok.Perusahaan.
Direktur Utama PT Arwana Citramulia Tbk. (ARNA) Tandean Rustandy saat berbincang dengan wartawan di wawancara akhir tahun Arwana Citramulia, Jakarta, Senin 29 November 2021 - Dok.Perusahaan.

Bisnis.com, JAKARTA - PT Arwana Citramulia Tbk. (ARNA) memandang positif proyeksi kinerja pada 2022, seiring dengan penambahan kapasitas produksi. Analis pun menaikkan target saham produsen keramik tersebut.

Analis RHB Sekuritas Andrey Wijaya dan Ryan Santoso dalam risetnya mengatakan, laba bersih ARNA dalam laporan keuangan terakhir berada di atas ekspektasi pihaknya.

"ARNA membukukan laba bersih Rp347 miliar atau naik 56,9 persen secara tahunan hingga kuartal III/2021, dengan margin 18,4 persen, di atas ekspektasi kami dan konsensus," ujar Andrey dan Ryan, dikutip Selasa (28/12/2021).

RHB Sekuritas memperkirakan volume penjualan ARNA terus meningkat di akhir 2021 ini, terutama dengan kuatnya marketing sales dari sektor properti.

RHB Sekuritas memproyeksikan penjualan ARNA akan mencapai Rp2,4 triliun di 2021 dan Rp2,57 triliun di 2022. Sementara, laba bersihnya diproyeksikan akan mencapai Rp425 miliar di 2021 dan Rp466 miliar di 2022.

Akan tetapi, risiko terbesar terhadap saham ARNA menurut RHB Sekuritas datang dari pengamanan pemerintah pada produk keramik.

RHB Sekuritas menyebut, Asosiasi Keramik Indonesia atau Asaki menyatakan bahwa pajak pengamanan kemungkinan akan turun menjadi 13-17 persen, dari sebelumnya 19-23 persen, yang dapat meningkatkan produk impor dari China dan India.Pada Januari-Agustus 2021, produk impor dari China naik 105 persen, dan produk dari India naik 20 persen.

Sebagai informasi, negara eksportir utama ubin keramik Indonesia paling banyak berasal dari China dengan jumlah 67 persen, dari total 1,2 juta ton impor tahun 2020.

Adapun untuk menekan impor ubin keramik ini, pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 156/2021 tentang Pengenaan Bea Masuk Tindakan Pengamanan terhadap Impor Produk Ubin Keramik.

PMK ini diterbitkan setelah adanya laporan dari pemohon Arwana Citramulia, PT Muliakeramik Indahraya, PT Jui Shin Indonesia, PT Asri Pancawarna, dan PT Angsa Daya.

Meski risiko tersebut membayangi saham ARNA, RHB Sekuritas menyebut skor implementasi ESG 3,3 yang dimiliki ARNA menjadi salah satu faktor RHB Sekuritas meningkatkan target harga sahamnya. "Target price kami naikkan menjadi Rp1.110 per saham," ujarnya.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

rekomendasi saham arwana citramulia emiten keramik
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top