Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Top 5 News Bisnisindonesia.id: Semarak Konsolidasi Emiten hingga Waktunya Pilih-pilih Saham Royal

Sejumlah topik di Bisnisindonesia.id mulai dari semarak konsolidasi emiten hingga waktunya pilih-pilih saham royal menjadi dari lima pilihan yang patut Anda baca lebih lengkap.
Duwi Setiya Ariyanti
Duwi Setiya Ariyanti - Bisnis.com 27 Desember 2021  |  12:45 WIB
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (21/12/2021). Bisnis - Suselo Jati
Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (21/12/2021). Bisnis - Suselo Jati

Bisnis, JAKARTA— Pandemi tak menyurutkan minat sejumlah emiten melakukan konsolidasi hal itu tecermin pada sejumlah aksi korporasi sepanjang tahun 2021 dan diprediksi berlanjut hingga 2022. Artikel tersebut merupakan satu dari lima artikel pilihan editor di Bisnisindonesia.id. Simak seluruh pilihan selengkapnya.

1. Semarak Konsolidasi Emiten Kala Pandemi

Di tengah pandemi, pasar modal disemarakkan dengan sejumlah aksi konsolidasi emiten. Menariknya, aksi tersebut diperkirakan bakal terus berlanjut pada 2022, saat fase pemulihan ekonomi Indonesia berlanjut. Sejumlah aksi akusisi dan merger pun bakal berdampak pada kinerja emiten pada tahun depan.  

Berdasarkan catatan Bisnis, setidaknya terdapat 38 aksi konsolidasi melalui merger dan akuisisi pada sepanjang 2021. Sejumlah sektor bahkan mencatatkan angka transaksi yang cukup fantastis, seperti sektor menara, energi, dan teknologi.  

Terkait konsolidasi bisnis melalui aksi merger dan akuisisi menunjukkan kebutuhan emiten untuk memperkokoh bisnisnya. Terutama, jelang momen pemulihan ekonomi saat kompetisi kembali ketat.

Konsolidasi yang terjadi sepanjang tahun ini terlihat tak hanya dari kalangan perusahaan swasta melainkan pembentukan holding yang diinisiasi pemerintah melalui sejumlah perusahaan pelat merah. Konsolidasi pun menjadi jawaban untuk memperkuat permodalan dan ekspansi bisnis sehingga memberikan nilai tambah secara bertahap setelah kontraksi pada 2020.

Beberapa sektor seperti perbankan bahkan mendapatkan dorongan konsolidasi begitu besar dari regulator. Seperti diketahui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewajibkan penambahan modal minimal menjadi Rp3 triliun pada 2023. Dengan demikian, sejumlah bank kecil berjibaku mempertebal modal sekaligus menyusun siasat agar tetap kuat melewati kompetisi bisnis.

Sektor mana saja ya yang agresif melakukan konsolidasi pada tahun ini dan tahun depan? Simak penjelasan lebih lengkapnya di bisnisindonesia.id.

Kondisi kelebihan pasokan semen di Tanah Air membuat sejumlah kementerian mengatur ulang tata investasi industri semen. (Bisnis/Peni Widarti)

2. Darurat Moratorium Investasi Industri Semen

Investasi pabrik semen telah menunjukkan sinyal kuning yang memerlukan perhatian akibat masalah kelebihan pasokan di Tanah Air. Menindaklanjuti kondisi industri semen, Kementerian Perindustrian dan Kementerian Investasi berkoordinasi untuk menyetop sementara aliran dana ke pabrik semen.

Menariknya, ternyata moratorium investasi industri semen dilakukan berdasarkan wilayah karena terdapat ketimpangan secara geografis. Beberapa daerah seperti Papua, Papua Barat, Maluku, dan Maluku Utara masih membutuhkan sentuhan lebih pabrik semen. Oleh karena itu, diperlukan langkah praktis untuk mengatur produksi semen.

Sementara itu, utilisasi produksi industri semen nasional saat ini masih di bawah 60 persen. Dengan total produksi Januari—November mencapai 63,19 juta ton dan total kapasitas 116 juta ton, rata-rata utilisasi semen sepanjang 2021 berada di angka 54,47 persen.

Adapun, menurut catatan Asosiasi Semen Indonesia (ASI), penjualan semen di dalam negeri dan ekspor pada tahun lalu mencapai 71,78 juta ton. Pada Januari—November 2021, produksi semen untuk konsumsi domestik dan ekspor mencapai 70,38 juta ton, dengan 59,43 juta ton penjualan dalam negeri, dan sisanya 10,95 juta ton ekspor.

Lalu, apa saja solusi yang disiapkan untuk menyebar pabrik semen dan mengatasi masalah kelebihan pasokan semen nasional? Simak laporan lengkapnya di bisnisindonesia.id.

Kebutuhan internet yang tinggi mendorong penyedia layanan untuk menyediakan internet berkualitas dengan harga terjangkau. (Bisnis/Arief Hermawan P)

3. Tugas Berat Menjaga Keterjangkauan Tarif Internet pada 2022

Kenaikan kebutuhan internet pada tahun depan menempatkan tarif internet di persimpangan. Permintaan tinggi terhadap tingginya kualitas dihadapkan dengan tarif yang terjangkau.

Pada 2022 bisnis internet dari sektor ritel dan perumahan masih memberikan kontribusi besar terhadap pertumbuhan pada tahun depan. Oleh karena itu, para penyedia internet perlu memastikan kualitas internet yang andal sekaligus biaya terjangkau.

Menariknya, kedua hal ini bisa terakselerasi akibat ketatnya persaingan bisnis di antara perusahaan penyedia internet. Pertarungan memperebutkan konsumen berlanjut pada tahun depan yang artinya penyedia internet harus mampu menjaga biaya sambil meningkatkan kualitas layanan.

Setidaknya, industri telekomunikasi pada 2022 diproyeksi tumbuh 3 persen secara tahunan akibat gaya hidup digital selama pandemi yang mendorong adopsi internet. Simak laporan lengkapnya di bisnisindonesia.id.

Pemerintah mengatur strategi meningkatkan investasi sektor mineral dan batu bara yang menyentuh titik terendah dalam lima tahun terakhir. (Bisnis/Paulus Tandi Bone)

4. Utak-atik Strategi Memuluskan Investasi Mineral dan Batu Bara

Investasi di lini pertambangan mineral dan batu bara yang mencapai titik terendah dalam lima tahun terakhir menggerakkan pemerintah untuk mengerek aliran modal. Pemerintah mulai menyiapkan siasat mengangkat realisasi investasi jumbo di sektor mineral dan batubara guna menghentikan capaian rendah investasi.

Evaluasi regulasi hingga link and match bakal dilakukan untuk memuluskan alur investasi. Selain itu, sejumlah insentif juga akan digodok guna memuluskan masuknya investor, termasuk mempertemukan pelaku industri dan investor atau financial support.

Berdasarkan data Minerba One Data Indonesia (MODI) yang kelola Ditjen Minerba Kementerian ESDM, realisasi investasi sub sektor mineral dan batu bara baru mencapai US$4,01 miliar hingga 26 Desember atau 93% dari target US$US$4,3 miliar. Dengan capaian ini, realisasi investasi Minerba 2021 berpotensi jadi yang paling rendah dalam 5 tahun terakhir.

Kementerian ESDM sejatinya masih memiliki waktu beberapa hari lagi sebelum pergantian tahun untuk menghimpun investasi hingga mencapai target yang direncanakan.

Salah satu yang mendapat perhatian adalah investasi pada proyek pembangunan smelter. Pemerintah menargetkan pembangunan sebanyak 53 smelter hingga 2024 mendatang. Saat ini baru terdapat 19 smelter yang telah berdiri dengan tambahan 4 smelter ditargetkan rampung pada akhir tahun.

Apa saja siasat yang disiapkan pemerintah agar investasi mengalir ke sektor mineral dan batubara? Laporan selengkapnya bisa Anda simak di bisnisindonesia.id.

Terdapat sejumlah saham yang bisa menjadi acuan belanja saham akhir tahun karena menawarkan cuan berupa dividen. (Bisnis/Himawan L. Nugraha)

5. Waktunya Pilih-pilih Saham Royal Dividen

Kinerja ciamik sejumlah emiten andalan pada 2021 bisa menjadi penanda peluang cuan khususnya terkait bobot dividen yang dibagikan. Terlebih, dengan potensi penguatan pada tahun depan, akhir tahun menjadi momen pas berbelanja saham-saham royal pembagi dividen.

Selama tahun berjalan indeks High Dividend 20 baru tumbuh 5,05 persen atau lebih rendah dari pertumbuhan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang menyentuh 9,76 persen. Adapun indeks yang memuat emiten dengan rekam jejak pemberian dividen terbesar itu dibuka pada level 455,19.

Sampai dengan tanggal 24 Desember, indeks tersebut ditutup pada level 468,56. Hal tersebut jauh berbeda jika dibandingkan dengan indeks SMC Composite yang telah tumbuh 27,78 persen padahal, indeks tersebut hanya memuat emiten-emiten yang memiliki kapitalisasi kecil dan menengah.

Terdapat sejumlah rekomendasi saham di antara jajaran emiten royal. Beberapa di antaranya karena mampu mencetak kinerja ciamik dan sisanya memang dikenal memberikan dividen jumbo kepada pemeganag saham.

Meski demikian, di masa belanja saham akhir tahun, sejumlah analis menyebut tak hanya porsi dividen yang bisa menjadi pertimbangan untuk menetapkan pilihan. Terdapat sejumlah faktor yang bisa menjadi acuan sebelum Anda menjatuhkan pilihan. Simak artikel selengkapnya di bisnisindonesia.id.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batubara internet merger dividen konsolidasi industri semen
Editor : Duwi Setiya Ariyanti

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top