Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Terus Dilego Asing, Kapan Saham Bukalapak (BUKA) Balik ke Harga IPO?

Investor asing pun tercatat melakukan penjualan hingga Rp99,16 miliar hingga akhir sesi I perdagangan hari ini. Sementara dalam sebulan terakhir, mereka telah melego hingga Rp422,10 miliar.
Pandu Gumilar
Pandu Gumilar - Bisnis.com 01 Desember 2021  |  13:32 WIB
Warga mengakses aplikasi Bukalapak di Jakarta, Kamis (5/8/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Warga mengakses aplikasi Bukalapak di Jakarta, Kamis (5/8/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Harga saham PT Bukalapak.com Tbk. (BUKA) semakin menjauh dari harga initial public offering (IPO) pada perdagangan sesi I Rabu (1/12/2021).

BUKA ditutup pada level Rp510 per saham sehari setelah mereka menerbitkan laporan keuangan kuartal III/2021. Alih-alih menjadi bahan bakar bagi laju harga, saham emiten teknologi itu justru mengalami auto reject bawah (ARB).

Sejak pembukaan, saham Bukalapak terkoreksi 35 poin atau turun 6,42 persen. Jumlah transaksi tercatat 18.673 kali dengan volume saham yang beredar 505,84 juta. Adapun nilai transaksi diperkirakan mencapai Rp261 miliar.

Investor asing pun tercatat melakukan penjualan hingga Rp99,16 miliar pada hari ini. Sementara dalam sebulan terakhir, mereka telah melego hingga Rp422,10 miliar.

Penurunan harga saham mereka pun ikut menggerus kapitalisasi pasar Bukalapak menjadi Rp52,56 triliun. Padahal dari segi kinerja keuangan, perseroan mampu memoles kinerja lebih baik pada kuartal III/2021.

Pendapatan BUKA pada kuartal III/2021 tumbuh sebesar 42 persen dari tahun sebelumnya menjadi Rp 1,3 triliun. Pendapatan Mitra Bukalapak pada periode ini tumbuh sebesar 298 pesen menjadi Rp496 miliar dibandingkan dengan tahun lalu. Kontribusi Mitra Bukalapak terhadap pendapatan perseroan meningkat dari 19 persen pada tahun lalu menjadi 43 persen pada tahun ini.

Manajemen menyatakan perseroan terus fokus pada strategi untuk mencapai pertumbuhan yang kuat dan berkelanjutan, diiringi dengan pengelolaan yang baik terhadap biaya operasional. Pada periode 9 bulan, rasio beban operasional terhadap TPV turun menjadi 2,7 persen dibandingkan di periode sama tahun lalu sebesar 3,9 persen.

Bukalapak juga menekan kerugian EBITDA pada kuartal III/2021 sebesar 15 persen lebih baik dibandingkan periode yang sama di tahun lalu, dengan rasio kerugian EBITDA terhadap TPV yang membaik menjadi 1,2 persen dari 2,2 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Bukalapak mampu menekan kerugian operasionalnya sebesar 13 persen menjadi Rp1,2 triliun per September dari Rp1,4 triliun pada tahun lalu. Hingg September 2021, BUKA berhasil mengurangi kerugian bersihnya sebesar 19 persen.

Selain itu, total processing value (TPV) selama kuartal ketiga tahun 2021 tumbuh sebesar 51 persen dibandingkan periode sama tahun sebelumnya, menjadi Rp 87,9 triliun. Pertumbuhan TPV didukung oleh peningkatan jumlah transaksi sebesar 25 persen dan kenaikan sebesar 21 persen pada average transaction value (ATV).

Sebagai informasi, sebanyak 73 persen TPV Perseroan berasal dari luar daerah tier 1 di Indonesia, di mana penetrasi all-commerce dan tren digitalisasi warung serta toko ritel tradisional terus menunjukan pertumbuhan yang kuat.

Meski mampu mencatatkan kinerja yang baik, tetapi harga saham Bukalapak justru terkoreksi. Sehingga kapan harga saham BUKA balik ke harga IPO?


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

e-commerce bukalapak Kinerja Saham
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top