Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Cara Analisis Saham Hasil Pompom Influencer, Cek 4 Rasio Ini!

Investor ritel disarankan untuk menghindari saham dengan PER menyentuh 100 kali.
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan ponsel di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (6/10/2021). Bisnis/Himawan L Nugraha
Karyawan mengamati pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menggunakan ponsel di Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Rabu (6/10/2021). Bisnis/Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Aksi pompom saham yang dilakukan influencer terkadang sulit untuk disadari oleh investor. Oleh karena itu, investor khususnya investor pemula perlu selalu mengecek semua informasi yang diterima.

Ada berapa cara yang bisa investor retail lakukan untuk mengecek dan menilai perusahaan yang direkomendasikan atau di pompom oleh influencer, dengan mengecek beberapa rasio.

Direktur Ekuator Swarna Investama Hans Kwee menuturkan masyarakat atau investor retail untuk melakukan konfirmasi atas semua informasi yang diberikan oleh influencer.

"Seluruh informasi yang ketika kita baca dan terima harus kita dikonfirmasi kebenarannya," jelasnya dalam webinar virtual, Rabu (6/10/2021).

Hans memaparkan cara untuk menganalisis saham hasil rekomendasi influencer apakah saham yang berisiko atau bagus. Investor bisa mengecek nilai valuasi atau rasio-rasio sebuah perusahaan yang di pompom di aplikasi trading atau investasi.

Pertama, investor bisa melihat price earning ratio (PER). Hans menjelaskan PER adalah perbandingan antara harga saham dengan earning yang akan investor dapatkan.

Hans menyarankan untuk menghindari saham dengan PER menyentuh 100 kali. Menurutnya, ada kemungkinan perusahaan tersebut memiliki masalah dan investor akan mendapatkan keuntungan dalam waktu yang lama.

"Kalau [PER] 100 kali artinya 100 tahun lagi kita baru untung, kalau PER-nya negatif artinya perusahaannya rugi jadi susah untuk mendapatkan keuntungan," paparnya.

Kedua, investor dapat mengecek price book value ratio (PBVR). PBVR merupakan perbandingan harga sama dengan ekuitas yang dimiliki perusahaan.

Menurut Hans, PBVR di atas 20 kali tidak wajar karena umumnya PBVR berada di kisaran 1 kali–4 kali atau di bawah 5 kali.

"Tapi kalau lebih dari itu [5 kali], artinya kita membayar sesuatu tapi ekuitasnya sudah kemahalan," jelasnya.

Rasio ketiga yang tidak kalah penting yakni, price sales ratio (PSR). Hans memaparkan, jika PSR sebuah perusahaan terlalu tinggi artinya investor membeli saham yang mahal.

Keempat, debt equity ratio (DPR). Hans menyebutkan kalau DPR sebuah perusahaan tinggi dapat mengindikasikan perusahaan memiliki risiko untuk bangkrut.

“Jadi mungkin kita nggak bisa bilang semua dipompom tapi kita lihat dan cek, kalau udah jelas datanya jangan kita ikutan setor uang,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Yuliana Hema
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper