Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Emas Berpotensi Terus Tertekan, Masih Menarik Dikoleksi?

Meski harganya tengah tertekan, investasi emas terutama fisik, masih dapat menjadi opsi bagi para investor.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 30 September 2021  |  14:18 WIB
Emas batangan 24 karat ukuran 1oz atau 1 ons, setara 28,34 gram. Harga emas mengalami pergerakan ekstrim pada pekan ini yang mana sempat turun ke level US1.800 per ons beberapa hari setelah memecahkan rekor harga tertinggi. - Bloomberg
Emas batangan 24 karat ukuran 1oz atau 1 ons, setara 28,34 gram. Harga emas mengalami pergerakan ekstrim pada pekan ini yang mana sempat turun ke level US1.800 per ons beberapa hari setelah memecahkan rekor harga tertinggi. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Kejelasan isu tapering dan tanggapan bank sentral Amerika Serikat (AS) terkait tekanan inflasi menjadi faktor utama tertekannya pergerakan harga emas. Meski demikian, investasi pada instrumen logam mulia ini diyakini masih cukup menarik.

Dilansir dari Bloomberg pada Kamis (30/9/2021), harga emas di pasar spot terpantau pada US$1.732,16 per troy ounce atau naik 0,34 persen. Meski demikian, secara year to date, return harga emas terpantau merah -8,73 persen.

Founder Traderindo.com Wahyu Laksono menjelaskan, tertekannya harga emas salah satunya disebabkan oleh isu tapering The Fed. Pernyataan gubernur The Fed, Jerome Powell terkait dimulainya tapering pada tahun ini dinilai menekan harga aset safe haven seperti emas.

“Melihat dari tahun 2013 lalu, saat The Fed melakukan tapering, emas memang terkoreksi cukup dalam. Sepertinya untuk jangka menengah koreksi serupa akan terjadi saat ini,” katanya saat dihubungi Bisnis pada Kamis (30/9/2021).

Menurut Wahyu, harga emas saat ini akan kesulitan naik karena anggapan sejumlah bank sentral bahwa tekanan inflasi hanya akan bersifat sementara. Padahal, gelontoran stimulus dan utang pemerintah AS yang besar sudah pasti akan berimbas pada kenaikan inflasi yang berkelanjutan.

Ia melanjutkan, hingga akhir tahun harga emas kemungkinan akan bergerak pada rentang US$16.00 hingga US$1.900 per troy ounce. Namun, apabila kebijakan tapering sesuai dengan jadwal yang dikeluarkan The Fed, maka harga logam mulia berpotensi tertekan hingga ke level US$1.300 per troy ounce.

Meski harganya tengah tertekan, Wahyu mengatakan investasi emas, terutama fisik, masih dapat menjadi opsi bagi para investor. Ia mengatakan, karakteristik investasi emas fisik secara tradisional berbeda dengan pergerakan harga emas dunia.

“Emas dunia umumnya diperdagangkan melalui kontrak, kalau harga dibiarkan naik investor akan kesulitan karena biaya bunga dan tembusan emasnya sangat mahal. Kalau emas fisik seperti emas Antam itu murni pasokan dan permintaan,” paparnya.

Wahyu mengatakan, ada dua faktor yang menjadikan investasi emas fisik seperti Antam masih menarik dilakukan. Pertama, dari sisi global, apabila nilai dolar AS mengalami pelemahan, harga emas akan mengalami kenaikan.

Kedua, dari sisi domestik, jika nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah harga emas juga akan tetap naik.

Menurutnya, investor dapat masuk ke investasi emas fisik seperti emas Antam meski posisinya tengah menurun. Hal ini mengingat potensi kenaikan harga yang masih dapat terjadi dalam jangka panjang.

“Jadi apapun kondisinya, harga emas fisik akan cenderung naik. Sehingga, masih bisa jadi opsi investasi yang menarik,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga emas dunia logam mulia harga emas comex
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top