Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Mayoritas Mata Uang Asia Loyo, Rupiah Ikut Tertekan

Pelemahan mata uang Garuda juga diikuti oleh mayoritas pelemahan mata uang Asia lainnya.
Karyawati menghitung uang rupiah dan dollar AS di salah satu bank di Jakarta, Kamis (10/9/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menghitung uang rupiah dan dollar AS di salah satu bank di Jakarta, Kamis (10/9/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah terpantau melemah pada pembukaan perdagangan hari ini, Senin (20/9/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda terpantau dibuka turun 35 poin atau 0,25 persen ke Rp14.257,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS terpantau menguat 0,11 persen di posisi 93,2960.

Pelemahan nilai tukar terhadap dolar AS juga terjadi pada beberapa mata uang lainnya di kawasan Asia, diantaranya won Korea Selatan turun 1,09 persen, ringgit Malaysia turun 0,47 persen, peso Filipina turun 0,39 persen, dan dolar Singapura turun 0,22 persen.

Ekonom PT Bank Permata Tbk. Josua Pardede menyebutkan, pelaku pasar akan menanti kejelasan mengenai jadwal pasti rencana Bank Sentral AS, The Fed untuk mengurangi stimulus pembelian aset obligasi atau tapering pada FOMC yang diselenggarakan 21-22 September 2021. 

“Jika dicermati pekan lalu, dolar AS terlihat bergerak naik turun. Jadi dampak menjelang FOMC ke rupiah adalah room bergerak di kisaran Rp14.200-Rp14.300. Kalaupun ada pelemahan, cenderung terbatas ke level Rp14.325 per dolar AS,” jelas dia kepada Bisnis, Senin (20/9/2021).

Josua menyebutkan, dolar AS menguat terhadap mata uang utama pada perdagangan Jumat lalu, didukung oleh penguatan proyeksi indeks keyakinan konsumen AS untuk September 2021. Salah satu indikator keyakinan konsumen AS, indeks sentimen konsumen Universitas Michigan diperkirakan naik menjadi 71,0 dari sebelumnya 70,3.

Rilis data ini berimplikasi pada kenaikan ekspektasi inflasi, sehingga indeks naik 0,28 persen ke level 93,195 pada penutupan Jumat waktu setempat. Kenaikan ekspektasi inflasi juga berimplikasi pada kenaikan yield obligasi pemerintah AS sebesar 2 basis poin ke level 1,36 persen.

“Sepanjang pekan lalu, dolar AS cenderung mengalami penguatan sejalan dengan membaiknya data perekonomian AS. Indeks dolar AS sepanjang pekan tercatat naik 0,66 persen,” terang dia.

Sementara untuk rupiah, lanjutnya, juga tercatat menguat pada Jumat akibat rilis data penjualan ritel yang menguat pada hari sebelumnya. Meskipun rupiah cenderung menguat, namun mayoritas yield dari obligasi benchmark tercatat naik 1 basis poin.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper