Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Wall Street Dibuka Jatuh, Morgan Stanley Pangkas Prospek Pasar Saham AS

Penurunan saham teknologi berkapitalisasi pasar jumbo termasuk Apple Inc. dan Facebook Inc. sangat membebani Nasdaq 100.
Farid Firdaus
Farid Firdaus - Bisnis.com 08 September 2021  |  21:32 WIB
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg
Seorang pejalan kaki yang memakai masker lewat di depan gedung bursa saham New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, pada Kamis, (22/7/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka jatuh pada perdagangan Rabu (8/9/2021) waktu setempat sehingga melanjutkan pelemahan indeks utama. Hal ini dipicu oleh risiko ekonomi global akibat potensi pandemi yang bangkit kembali.

Berdasarkan data Bloomberg, pada 20.31 WIB, indeks Dow Jones Industrial Average turun 0,14 persen ke level 35.052,23, sementara S&P 500 anjlok 0,15 persen ke 4.513,42, sementara Nasdaq tergelincir 0,16 persen ke 15.349,79.

S&P 500 telah jatuh untuk hari ketiga secara beruntun, setelah sebelumnya sempat menyentuh rekor tertinggi pada 2 September. Penurunan saham teknologi berkapitalisasi pasar jumbo termasuk Apple Inc. dan Facebook Inc. sangat membebani Nasdaq 100.

Sementara itu, Indeks Stoxx 600 Eropa menuju penurunan terbesar dalam hampir tiga minggu. Saham yang terpapar cryptocurrency menurun karena aksi jual di Bitcoin berlanjut.

Penurunan pada Rabu juga terjadi karena para manajer investasi, mulai Morgan Stanley hingga Citigroup menjadi berhati-hati terhadap pasar saham AS.

Banyak investor mulai melihat alternatif pasar saham di luar AS. Ini menjadi penilaian yang berlebihan bahkan ketika pertumbuhan di negara lain juga menderita akibat lockdown dan pembatasan perjalanan.

Para investor ragu-ragu jika dunia siap terhadap pengurangan stimulus bank sentral, AS bahkan ketika inflasi meningkat. Faktor kekhawatiran musiman yang terjadi di pasar dan penilaian kinerja emiten akhir tahun menambah suasana suram.

“Sebelumnya kami mendengar bahwa The Fed akan memperketat kebijakan moneter dan itulah yang membuat pasar gelisah. Sekarang, sebenarnya datanya sedikit lebih lembut dan juga kasus Covid yang meningkat, kata Fiona Cincotta, analis pasar keuangan senior City Index

Pekan ini, Morgan Stanley memangkas outlook pasar saham AS menjadi underweight dan ekuitas global dengan bobot yang sama. Mereka menilai ada "risiko yang terlalu besar" untuk pertumbuhan hingga Oktober.

Sementara CitiGroup berpendapat, posisi pasar saham yang sebelumnya sangat bullish berarti juga punya potensi koreksi yang kuat. Sedangkan Credit Suisse Group AG punya rekomendasi small underweight untuk pasar saham AS.

Di Eropa, kekhawatiran pertumbuhan diperparah oleh spekulasi bahwa Bank Sentral Eropa bersiap-siap untuk memperlambat stimulus darurat.

Sementara itu, penyebaran Covid-19 yang terus berlanjut menghambat aktivitas ekonomi di seluruh dunia. Filipina mundur dari pelonggaran pembatasan di wilayah ibu kota, sementara Jepang memperpanjang keadaan darurat. Taiwan mengidentifikasi wabah varian delta di New Taipei City.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

wall street dow jones nasdaq

Sumber : Bloomberg

Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top