Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rencana Tapering Off Tak Bakal Kendurkan Harga Emas, Ini Alasannya!

Pandemi Covid-19 yang masih menjadi ancaman di seluruh dunia menjadi pendorong harga emas.
Karyawati menunjukkan replika logam mulia di Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (6/8/2020). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati menunjukkan replika logam mulia di Butik Emas Antam, Jakarta, Kamis (6/8/2020). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Harga emas berpotensi tembus ke level US$1.900 per troy ounce karena saat ini berada di fase konsolidasi US$1.800 per troy ounce.

Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan faktor utama yang mendorong penguatan harga emas adalah pandemi. Menurutnya, hal itu masih menjadi katalis positif meskipun tapering di depan mata.

“Harga emas ketika 2013 saat tapering anjlok hingga mendekati level US$1.000. Tapi itu kalau bicara tapering yang lalu. Masalahnya sekarang ini pandemic sehingga ekonomi masih terancam,” katanya kepada Bisnis pada Senin (30/8/2021).

Wahyu menambahkan pandemi masih menjadi ancaman utama di seluruh dunia. Maka itu dia optimistis harga emas akan terus mengalami penguatan. Pasalnya Bank of America saja menyatakan ekonomi masih disandera oleh pandemi.

Menurutnya, Amerika juga tidak akan mengurangi surat utang secara massif di pasar karena masih ingin melihat data laporan pekerjaan hingga September. “Data non-farm payroll (NFP) September akan menjadi penentu karena data inflasi masih belum dianggap serius The Fed,” katanya.

Wahyu memperkirakan harga emas akan terkonsolidasi di area US$1.700 sampai dengan US$1.800. Sementara itu area resistance yang kemungkinan tertembus adalah US$1.900. Adapun area support terkuat adalah US$1.660 sampai dengan US$1.700.

Di sisi lain, harga emas bergerak fluktuatif dalam beberapa hari terakhir lantaran investor menantikan pernyataan dari Federal Reserve Amerika Serikat. Hal ini tidak memberikan banyak pengaruh bagi emiten tambang emas di Indonesia.

Salah satunya PT United Tractors Tbk. yang masih optimistis dengan kinerjanya sampai dengan akhir tahun ini.

Emiten berkode UNTR tersebut menargetkan tahun ini bisa mendapai penjualan hingga sekitar 320.000-330.000 oz. Sedangkan, sampai dengan akhir Juli penjualan emasnya sudah mencapai 203.800 oz.

“Dari sisi demand, tidak ada perubahan,” jelas Sara Loebis, Corporate Secretary UNTR kepada Bisnis, Senin (30/8/2021).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper