Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Harga Minyak Terdampak Badai Ida dan Pelemahan Dolar AS, Siap Tembus US$70

Harga minyak berpotensi lanjut menguat seiring dengan badai yang menahan pasokan dan respons pada terhadap pernyataan The Fed.
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak./Bloomberg
Ilustrasi. Kapal tanker pengangkut minyak./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak WTI berpotensi lanjut menguat pada perdagangan Senin (30/8/2021) menembus level US$70 per barel seiring dengan ganguan pasokan akibat badai Ida dan pelemahan dolar AS..

PT Valbury Asia Futures dalam laporannya menyebut harga minyak naik lebih dari 2 persen dan berada di jalur untuk kenaikan mingguan terbesar dalam lebih dari setahun.

Hal itu, tambahnya, disebabkan oleh perusahaan yang mulai menutup produksi di Teluk Meksiko, Amerika Serikat (AS) menjelang badai besar yang diperkirakan melanda awal pekan depan.

Tidak hanya itu, Valbury juga menuliskan bahwa kenaikan harga minyak WTI juga didukung oleh pelemahan dolar AS.

“Resistance di US$69,30, support di US$67,75,” demikian ditulis dalam publikasi kajian, Sabtu (28/8/21).

Secara teknikal, level support harga minyak adalah US$67,77; US$66,88; dan US$66,25, sementara level resistance adalah US$70,81; US$69,92; dan US$69,29.

Valbury lalu memberikan rekomendasi beli terhadap minyak WTI di harga US$68,55, dan stop loss di harga US$68,25. Target harga adalah antara US$69,00 sampai US$69,30.

Mengutip Bloomberg, pada penutupan perdagangan Jumat (27/8/2021), harga minyak WTI menguat 1,96 persen atau 1,32 poin ke US$68,74 per barel.

Sementara selama satu bulan terakhir, harga minyak menyentuh level tertinggi di US$73,92 per barel pada 2 Agustus 2021, dan terendah di US$61,79 pada 23 Agustus.

Mengutip Antara, harga minyak memanas menyusul Badai Ida yang diperkirakan memicu tanah longsor di sepanjang Gulf Coast bagian utara AS pada pekan ini.

“Badai tropis saat ini menghantam fasilitas minyak di Gurun Meksiko. Sejumlah perusahaan minyak mulai mengevakuasi minyak mereka dan menahan produksi,” ujar pengamat energi Commerzbank Research Carsten Fritsch, Jumat (27/8/2021).

Menurut Badan Informasi Energi AS sekitar 1,8 juta barel minyak mentah diproduksi di Gurun Meksiko AS, yakni sekitar 17 persen produksi minyak mentah AS.

Selama pekan ini, harga acuan minyak AS melonjak 10,6 persen, sementara harga minyak Brent naik 11,5 persen berdasarkan harga kontrak bulanan di muka.

Harga komoditas juga mendapat sentimen positif seiring dengan pelemahan dolar AS, akibat sinyal dovish dari Federal Reserve.

Ketua Fed Jerome Powell menyebutkan pergerakan untuk memulai tapering (pengurangan) pembelian aset tidak boleh diinterpretasikan sebagai sinyal bahwa kenaikan suku bunga akan segera menyusul.

“Waktu dan laju pengurangan pembelian aset yang akan datang tidak akan ditujukan untuk membawa sinyal langsung mengenai waktu kenaikan suku bunga, di mana kami telah mengartikulasikan tes yang berbeda dan secara substansial lebih ketat,” kata Powell, mengutip Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dany Saputra
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper