Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Mayoritas Bursa AS Ditutup Menguat, Nasdaq Tertekan Saham Teknologi

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,7 persen ke level 34.113,23, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,27 persen ke 4.192,62. Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite melemah 0,48 persen ke level 13.895,12.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 04 Mei 2021  |  05:17 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. -  Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Mayoritas bursa saham Amerika Serikat ditutup menguat pada perdagangan Senin (3/5/2021), meskipun tertekan sektor teknologi dan ritel.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,7 persen ke level 34.113,23, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,27 persen ke 4.192,62. Di sisi lain, indeks Nasdaq Composite melemah 0,48 persen ke level 13.895,12.

Raksasa teknologi Tesla Inc. dan Amazon.com Inc. membebani indeks Nasdaq. Pelaku pasar juga tengah mengurai data ekonomi. Sektor teknologi dan ritel di indeks S&P 500 melemah, sedangkan sektor komoditas dan industri naik.

Saham Pfizer Inc. ditutup menguat setelah pemerintahan Joe Biden dikabarkan mendukung langkah perusahaan untuk mulai mengekspor vaksin virus corona produksi AS, sementara Moderna Inc. menguat setelah setuju untuk memberikan 500 juta dosis vaksi ke program global Covax.

Di sisi lain, saham Estee Lauder Cos. merosot setelah raksasa kosmetik tersebut membukukan penjualan di bawah perkiraan analis.

Data yang dirilis Senin menunjukkan pertumbuhan sektor manufaktur AS melandai pada bulan April, sementara indeks harga bahan baku melonjak ke level tertinggi sejak 2008.

Sementara itu, Gubernur Federal Reserve Jerome Powell mengatakan pemulihan ekonomi membuat kemajuan nyata, tetapi kenaikannya tidak merata mengikuti penurunan. Presiden The Fed wilayah New York John Williams mencatat bahwa kondisi saat ini hampir tidak cukup untuk mengubah sikap kebijakan moneter.

Kepala analis pasar Truist Advisory Sevices Keith Lerner mengatakan musim laporan pendapatan, pemulihan ekonomi, dan tren  Covid-19 masih akan menjadi katalis jangka pendek saat ini.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top