Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AS Catat Lonjakan Inflasi, Wall Street Bergerak Variatif

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,34 persen. Di sisi lain, indeks S&P 500 menguat 0,11 persen dan Nasdaq Composite naik 0,65 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 13 April 2021  |  21:24 WIB
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. -  Michael Nagle / Bloomberg
Pedagang bekerja di lantai bursa New York Stock Exchange. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat bergerak variatif pada awal perdagangan Selasa (13/4/2021) karena investor bertaruh bahwa kenaikan inflasi di AS tidak akan cukup untuk memperlambat langkah-langkah stimulus.

Berdasarkan data Bloomberg indeks Dow Jones Industrial Average melemah 0,34 persen ke level 33.629,90 pada awal perdagangan di Wall Street.

Di sisi lain, indeks S&P 500 menguat 0,11 persen ke level 4.132,44 dan indeks Nasdaq Composite naik 0,65 persen ke level 13.940,83.

Indeks S&P 500 menguat mengikuti berita bahwa pemerintah AS merekomendasikan untuk menghentikan sementara vaksin Johnson & Johnson di tengah masalah kesehatan.

Sementara ituj, Departemen Tenaga Kerja AS mencatat indeks harga konsumen (consumer price index/CPI) naik 0,6 persen pada Maret dari bulan sebelumnya setelah kenaikan 0,4 persen. Ini merupakan laju tertinggi sejak Agustus 2012.

Namun, investor berspekulasi bahwa akselerasi inflasi tidak cukup cepat untuk menjamin perubahan kebijakan Federal Reserve. Hal ini membuat sebagian besar imbal hasil Treasury AS tidak berubah.

Saham J&J jatuh saat para pejabat memulai penyelidikan terkait kasus penggumpalan darah langka dan parah, sementara saham Moderna Inc. dan Pfizer Inc. melaju.

"Ini adalah kemunduran dan akan membuat orang gugup," kata ahli analis multi-aset T. Rowe Price Sebastien Page dalam sebuah wawancara di Bloomberg Television.

“Tapi tujuannya adalah Covid off. AS sudah memiliki 100 juta dosis, jadi dalam portofolio kami, kami tetap diposisikan untuk pemulihan," lanjutnya.

Menurut Survei Bank of America Corp, manajer investasi di seluruh dunia sekarang melihat inflasi, taper tantrum, kenaikan pajak sebagai risiko yang lebih besar daripada Covid-19.

Meskipun pejabat Federal Reserve memperkirakan lonjakan inflasi hanya bersifat sementara, banyak pelaku pasar tidak setuju, dengan kekhawatiran atas laju inflasi terjadi di seluruh aset dengan mulai dari obligasi hingga saham teknologi.

Departemen Keuangan berencana untuk melelang obligasi 30 tahun pada hari Selasa setelah penjualan obligasi tenor tiga dan 10 tahun menarik permintaan yang cukup banyak pada hari Senin.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top