Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Dibayangi Reli Dolar AS dan Pemulihan Pasokan, Harga Alumunium Masih Berpeluang Rebound

Tren pelemahan harga alumunium yang sedang terjadi membuka peluang pasar untuk melakukan aksi beli.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 31 Maret 2021  |  10:36 WIB
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding.  - ARFI
Roll forming adalah proses pengrolan dingin dengan tujuan pembentukan suatu profil baja (lapis paduan zinc atau zinc & aluminium atau zinc, aluminium, dan magnesium) menjadi produk akhir seperti atap gelombang, genteng metal, rangka atap, rangka plafon dan dinding. - ARFI

Bisnis.com, JAKARTA – Harga alumunium tergelincir dari level tertingginya sejak 2018 seiring dengan prospek pemulihan pasokan dan tren penguatan dolar AS.

Dilansir dari Bloomberg pada Rabu (31/3/2021), harga alumunium terkoreksi 1,54 persen ke US$2.231 per metrik ton di London Metal Exchange (LME) setelah melesat 1,4 persen sepanjang pekan lalu.

Pada minggu lalu, harga alumunium sempat melonjak 2,3 persen ke US$2.298 per ton pada Jumat (26/3/2021). Level harga tersebut merupakan yang tertinggi sejak pertengahan tahun 2018 lalu.

Salah satu sentimen penekan harga alumunium adalah rencana peerintah China untuk menjual stok cadangan alumuniumnya sebanyak 500 ribu ton. Langkah ini diyakini merupakan salah satu upaya pemerintah Negeri Panda untuk menekan reli harga sekaligus mencapai target emisi rendah yang dicanangkan.

Rencana mengalirkan persediaan alumunium China ke pasaran diyakini dapat mengimbangi penurunan total produksi China seiring dengan komitmennya untuk membatasi penggunaan energi karbon demi menuju emisi nol persen pada 2060.

Rencana pemerintah China untuk menjual cadangan alumuniumnya bukan yang pertama kali terjadi. Pada 2010 lalu, China juga melakukan hal serupa ketika pemangkasan produksi untuk mencapai target penghematan energi memicu pengetatan pasokan.

Pada tahun yang sama, China juga menjual cadangan sejumlah komoditas lain seperti seng, magnesium, kapas, dan jagung guna menekan reli harga yang saat itu terjadi serta mencegah kelangkaan.

Selain itu, kebijakan pemerintah China untuk memangkas emisi karbon dengan mengurangi kegiatan industri berbahan bakar fosil seperti smelter alumunium menimbulkan spekulasi bahwa lonjakan pasokan alumunium akan tersendat.

Pada saat yang sama, tingkat permintaan komoditas ini diperkirakan mengalami kenaikan. Hal ini pun memicu lonjakan harga alumunium ke level tertingginya pada pekan lalu.

Terkait hal tersebut, analis Citigroup Oliver Nugent mengatakan, tren pelemahan harga alumunium yang sedang terjadi membuka peluang pasar untuk melakukan aksi beli.

Menurutnya, rencana penjualan cadangan alumunium oleh pemerintah China memang kemungkinan akan terjadi. Meski demikian, hal tersebut diyakini akan terjadi secara perlahan selama sekitar lima tahun ke depan.

“Dengan perkiraan tersebut, rencana pemerintah China diyakini tidak akan berdampak signifikan terhadap pasar alumunium,” jelasnya dikutip dari Bloomberg.

Sementara itu, laporan dari Morgan Stanley menyebutkan, pasar alumunium saat ini tengah tertekan menyusul sejumlah faktor pendorong yang bersifat jangka pendek. Hal ini tutur ditambah dengan beberapa katalis yang berdampak pada pasar logam ini secara struktural.

“Laporan penjualan cadangan dari pemerintah China menghasilkan sentimen yang bearish. Sehingga, potensi peningkatan pasokan masih akan terjadi pada tahun 2021,” demikian kutipan laporan tersebut.

Laporan dari Commerzbank AG menjelaskan, selain penguatan mata uang greenback, harga alumunium juga tertekan dengan membaiknya kondisi di Terusan Suez yang sempat lumpuh. Kapal Ever Given yang sempat terdampar kini telah berhasil diapungkan sehingga kembali membuka jalur perdagangan tersibuk di dunia tersebut.

Secara terpisah, Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, koreksi harga alumunium saat ini dinilai wajar setelah mencetak rekor tertinggi pekan lalu.

Salah satu katalis negatif untuk alumunium saat ini adalah kenaikan indeks dolar AS yang menekan harga komoditas. Ia menjelaskan, kenaikan dolar AS membuat komoditas berdenominasi dolar AS seperti alumunium kurang menarik bagi investor.

“Saat ini pelaku pasar sedang wait and see, sehingga harga komoditas seperti alumunium mengalami koreksi,” katanya saat dihubungi pada Selasa (30/3/2021).

Menurut Ibrahim, potensi penguatan harga alumunium masih terbuka untuk kedepannya. Hal ini didukung oleh pemulihan ekonomi yang terjadi di China. Perbaikan ekonomi tersebut dinilai akan semakin meningkatkan kegiatan industri.

Salah satu sektor industri yang akan menopang harga alumunium adalah kendaraan listrik (electric vehicle). Pasalnya, alumunium juga menjadi salah satu bahan utama dalam pembuatan komponen-komponen mobil listrik selain tembaga dan nikel.

Prospek positif harga alumunium juga ditopang oleh permintaan dari luar China, salah satunya adalah AS. Rencana Presiden AS Joe Biden untuk sejumlah inisiatif pada sektor infrastruktur diyakini akan meningkatkan permintaan terhadap alumunium.

“Sepanjang tahun ini, harga alumunium kemungkinan akan berada di kisaran US$2.000 dan dapat menguji level di dekat US$2.400 per metrik ton,” pungkasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

komoditas aluminium
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top