Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Imbal Hasil US Treasury Turun, Wall Street Semringah

Indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,32 persen, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,7 persen dan Nasdaq Composite naik 1,23 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  05:58 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. -  Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Perusahaan sektor teknologi memimpin penguatan bursa saham Amerika Serikat pada perdagangan Senin (22/3/2021), di tengah penurunan imbal hasil US Treasury.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup menguat 0,32 persen, sedangkan indeks S&P 500 menguat 0,7 persen dan Nasdaq Composite naik 1,23 persen.

Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS atau US Treasury tenor 10 tahun melemah 0,0291 poin persentase ke level 1,697 persen.

Imbal hasil yang lebih stabil memberikan dorongan terhadap pasar saham setelah aksi jual US Treasury minggu lalu menjadi pengingat yang jelas atas kekhawatiran bahwa pemulihan ekonomi yang lebih kuat dapat memicu inflasi, meskipun ada komentar meyakinkan dari para pembuat kebijakan.

Pada saat yang sama, para pelaku pasar bertaruh bahwa pertumbuhan ekonomi akan meningkatkan keuntungan perusahaan di tengah perkembangan vaksin yang mengekang pandemi Covid-19 global.

Analis investasi Baird Ross Mayfield mengatakan kenaikan imbal hasil jangka panjang telah memengaruhi setiap pergerakan di pasar ekuitas, termasuk memengaruhi aksi jual besar-besaran hingga sektor yang lebih sensitif secara ekonomi

"Setiap kali ada stabilisasi suku bunga, ada pemicu bagi sektor teknologi untuk mencatatkan penguatan,” ungkap Ross, seperti dikutip Bloomberg, Selasa (23/3/2021).

Sementara itu, Presiden Federal Reserve Bank wilayah Richmond Thomas Barkin mengatakan bahwa belum ada tanda bahwa pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat akan membuat laju inflasi tidak terkendali atau kebutuhan untuk menyesuaikan kebijakan moneter.

“Untuk menahan laju inflasi yang tidak diinginkan, ekspektasi kenaikan harga harus benar-benar bergerak dan mulai diperhitungkan dalam keputusan bisnis dan tawar-menawar upah, tambahnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street us treasury

Sumber : Bloomberg

Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top