Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kinerja Produsen Rokok Sampoerna (HMSP) pada 2020 di Bawah Proyeksi Analis

Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun oleh Bloomberg, perolehan pendapatan dan laba bersih 2020 HMSP berada di bawah estimasi.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 23 Maret 2021  |  15:44 WIB
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja
Penjual melayani pembeli rokok di Jakarta, Rabu (19/9/2018). - ANTARA/Muhammad Adimaja

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja keuangan emiten rokok PT HM Sampoerna Tbk. mengalami penurunan dari sisi pendapatan dan laba pada 2020.

Mengutip laporan keuangan perseroan, emiten berkode efek HMSP itu mencetak pendapatan sebesar Rp92,42 triliun pada 2020. Perolehan itu turun 12,85 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp106,05 triliun.

HMSP hanya mengantongi laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp8,58 triliun, menyusut 37,46 persen dibandingkan dengan perolehan 2019 sebesar Rp13,72 triliun.

Berdasarkan konsensus analis yang dihimpun oleh Bloomberg, perolehan pendapatan dan laba bersih 2020 HMSP berada di bawah estimasi.

Konsensus analis memprediksi pendapatan HMSP pada 2020 sebesar Rp94,95 triliun, hanya akan turun 10,5 persen dibandingkan dengan perolehan aktual 2019.

Selain itu, para analis juga memprediksi laba bersih HMSP 2020 sebesar Rp9,51 triliun, hanya akan turun 30,7 persen dibandingkan dengan perolehan aktual 2019.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya mengatakan bahwa perolehan pendapatan HMSP pada 2020 sejalan dengan proyeksinya, yaitu berhasil mencapai 98 persen dari estimasi pendapatan 2020.

“Namun, laba bersih HMSP sepanjang 2020 di bawah estimasi kami dan konsensus analis, yaitu hanya mencapai 81 persen dari estimasi laba 2020,” ujar Christine, Selasa (23/3/2021).

Sebelumnya, Presiden Direktur HM Sampoerna Mindaugas Trumpaitis mengatakan bahwa pandemi Covid-19 telah berdampak besar tidak hanya pada negara tetapi juga keseluruhan bisnis. Pelemahan ekonomi yang terjadi tahun lalu mempengaruhi kinerja perseroan.

“Total volume penjualan tembakau tahun lalu menurun hampir 10 persen. Tahun lalu, tidak mudah bagi masyarakat Indonesia dan bagi kami Sampoerna,” ujar Trumpaitis, belum lama ini.

Dia menjelaskan bahwa perseroan akan menggenjot penjualan segmen sigaret kretek tangan (SKT) pada tahun ini sebagai salah satu upaya memulihkan kinerja keuangan.

Hal itu seiring dengan kebijakan Kementerian Keuangan untuk menaikkan tarif cukai rokok sebesar 12,5 persen untuk rokok sigaret putih mesin (SPM) dan sigaret kretek mesin (SKM), tetapi tidak untuk rokok jenis sigaret kretek tangan (SKT).

“Keputusan pemerintah itu memberikan peluang bagi perseroan untuk memulihkan kinerja, […] Oleh karena itu, perseroan akan meningkatkan pekerja di kategori itu, sekaligus [genjot] penjualan,” ujar Trumpaitis.

Selain itu, peluang pemulihan kinerja melalui segmen itu pun didukung oleh pangsa pasar perseroan di segmen SKT yang cukup tinggi.

Adapun, mengutip laporan keuangan induk usaha HM Sampoerna, Philip Morris International (PMI), HMSP menjual 79,5 miliar batang pada 2020.

Perolehan itu turun 19,3 persen dibandingkan dengan penjualan rokok 2019 sebesar 98,5 miliar batang.

Sejalan dengan itu, HMSP juga mengalami penurunan pangsa pasar sepanjang 2020, menjadi hanya sebesar 28,8 persen dari total penjualan rokok domestik sebesar 276,3 miliar batang.

Sebelumnya, pangsa pasar HMSP pada 2019 sebesar 32,2 persen dari total penjualan rokok domestik sebesar 305,7 miliar batang.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri rokok hm sampoerna Kinerja Emiten
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top