Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sri Mulyani Rilis Surat Utang, Nilai Tukar Rupiah Diramal Kembali Berotot Pekan Depan

Rupiah diperkirakan cenderung menguat dengan sentimen dari dalam negeri terkait pemerintah berencana akan menerbitkan kembali obligasi. Penerbitan obligasi ini diproyeksikan akan mendorong capital inflow.
Karyawan menghitung mata uang rupiah di Bank Bukopin Syariah, Jakarta, Kamis (11/2/2021). Bisnis/Abdullah Azzam
Karyawan menghitung mata uang rupiah di Bank Bukopin Syariah, Jakarta, Kamis (11/2/2021). Bisnis/Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah di pasar spot pada Jumat (19/3/2021) berhasil ditutup menguat tipis 0,02 persen. Pekan depan, rupiah diperkirakan akan bergerak sideways dengan kecenderungan menguat.

Berdasarkan data Bloomberg, nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 0,02 persen atau 2,5 poin ke level Rp14.407,5 per dolar AS pada perdagangan Jumat (19/3/2021).

Sepanjang hari, rupiah bergerak di rentang Rp14.407,5-Rp14.470. Adapun, selama tahun berjalan rupiah melemah 2,55 persen terhadap dolar AS. Sementara itu, indeks dolar pada pukul 15.42 WIB, melemah 0,16 persen ke level 91,722.

Di sisi lain, selama sepekan terakhir rupiah mengalami pelemahan, pada penutupan perdagangan pekan lalu, nilai tukar rupiah berada di level Rp14.385 per dolar AS. Dengan demikian, dalam sepekan rupiah melemah 22,5 poin melemah 0,15 persen.

Ekonom Fiskal dan Kesejahteraan Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Yusuf Rendy Manilet menjelaskan jika melihat dari perkembangan sepekan, data ekonomi dari dalam negeri belum mampu mendorong penguatan rupiah yang signifikan.

"Untuk rupiah pekan depan, saya kira masih akan sideways di kisaran 14.350- 14.400, pergerakan pekan depan akan masih akan dipengaruhi oleh sentimen yield obligasi AS dan juga kewaspadaan akan potensi gelombang kedua dari Covid-19 secara global," jelasnya kepada Bisnis, Jumat (19/3/2021).

Rupiah diperkirakan cenderung menguat dengan sentimen dari dalam negeri terkait pemerintah berencana akan menerbitkan kembali obligasi. Penerbitan obligasi ini diproyeksikan akan mendorong capital inflow.

"Dengan demikian, juga akan turut berdampak pada dinamika nilai tukar rupiah di pekan depan," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper