Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masih Dibayangi Kenaikan Yield Obligasi AS, Rupiah Lanjutkan Koreksi

Penurunan nilai tukar rupiah terjadi di tengah tren penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia di tengah tren peningkatan yield obligasi AS.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 09 Maret 2021  |  09:35 WIB
Karyawan menunjukan Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawan menunjukan Rupiah dan Dolar AS di Jakarta, Rabu (27/1/2021). Nilai tukar rupiah di pasar spot ditutup menguat 15 poin atau 0,11 persen menjadi Rp14.050 per dolar AS. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali berada di zona merah pada perdagangan Selasa (9/3/2021) seiring dengan berlanjutnya tren kenaikan dolar AS karena penguatan imbal hasil obligasi AS.

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka di level Rp14.415 per dolar AS dan langsung terkoreksi 0,53 persen hingga pukul 09.19 WIB ke posisi Rp14.436 per dolar AS.

Rupiah semakin melemah menjauhi level Rp14.400. Pada pukul 09.24 WIB, rupiah terpantau melemah 80 poin atau 0,56 persen ke level Rp14.440 per dolar AS.

Dalam perdagangan yang sama indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak menguat 0,14 persen ke posisi 92,441.

Adapun, pelemahan mata uang Garuda itu melanjutkan tren koreksi daripada perdagangan sebelumnya. Pada perdagangan Senin (8/3/2021), nilai tukar rupiah melemah 0,42 persen atau 60 poin ke level Rp14.360 per dolar AS.

Sebelumnya, Senior VP Economist Bank Permata Joshua Pardede menuturkan penurunan nilai tukar rupiah terjadi di tengah tren penguatan dolar AS terhadap mata uang dunia di tengah tren peningkatan yield obligasi AS.

Peningkatan yield obligasi AS tersebut didorong oleh ekspektasi peningkatan inflasi AS dalam jangka pendek sejalan dengan ekspektasi pemulihan ekonomi AS yang lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

"Peningkatan yield obligasi AS tersebut selanjutnya mendorong koreksi atau pelemahan pasar obligasi global yang terindikasi dari keluarnya aliran modal asing dari pasar obligasi negara berkembang termasuk pasar obligasi domestik," paparnya kepada Bisnis, Senin (8/3/2021).

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dolar as obligasi as nilai tukar rupiah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top