Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Hadapi Tekanan Eksternal, Lelang SUN Diprediksi Himpun Penawaran Rp50 Triliun

Hasil lelang SUN pada pekan depan tidak akan banyak berubah dibandingkan dengan penawaran sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh tekanan yang masih dialami oleh pasar surat utang Indonesia.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 28 Februari 2021  |  15:14 WIB
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo
Pialang memperhatikan Yield SUN Indonesia - Antara/Prasetyo Utomo

Bisnis.com, JAKARTA – Tekanan eksternal yang tengah dialami diprediksi membuat hasil lelang Surat Utang Negara (SUN) pada Selasa (2/3/2021) mendatang tidak akan banyak berubah dibandingkan penawaran sebelumnya.

Menurut Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto, hasil lelang SUN pada pekan depan tidak akan banyak berubah dibandingkan dengan penawaran sebelumnya. Hal tersebut disebabkan oleh tekanan yang masih dialami oleh pasar surat utang Indonesia.

“Sepertinya tidak banyak berubah, masih di kisaran Rp50 triliun – Rp60 triliun karena market Indonesia cenderung tertekan seminggu belakangan,” ujarnya saat dihubungi pada Minggu (28/2/2021).

Ramdhan memaparkan, salah satu sentimen yang akan menekan hasil lelang pada pekan depan ialah tren positif imbal hasil obligasi AS (US Treasury). Menurutnya, kenaikan yield US Treasury ke level 1,5 akan membuat para investor cenderung lebih memperhatikan pergerakan imbal hasil dari AS.

Penguatan imbal hasil US Treasury akan melemahkan posisi surat utang emerging market, seperti Indonesia. Hal tersebut telah terlihat dari naiknya imbal hasil obligasi Indonesia seri benchmark 10 tahun selama beberapa pekan belakangan.

Data dari laman World Government Bonds mencatat, tingkat imbal hasil obligasi Indonesia dengan tenor 10 tahun adalah sebesar 6,671 persen. Angka tersebut menunjukkan pelemahan sebesar 37,2 basis poin selama sebulan belakangan. Imbal hasil obligasi Indonesia sempat mencapai kisaran 6,718 pada 22 Februari lalu.

Kenaikan yield tersebut, lanjutnya, menandakan risiko pada pasar obligasi negara berkembang sedang naik. Sehingga, investor akan cenderung lebih waspada dan lebih memilih menaruh dananya di AS.

“Karena, pergerakan imbal hasil AS saat ini masih berada di tahap awal, sehingga akan lebih dicermati oleh para investor dalam beberapa waktu ke depan,” jelasnya.

Selain itu, perhatian pasar juga masih akan terpaku pada sentimen kebijakan yang dilakukan oleh The Federal Reserve (The Fed). Pernyataan The Fed yang akan melanjutkan quantitative easing (QE) masih terus dicerna oleh para pelaku pasar.

“Ini adalah kebijakan pertama yang dikeluarkan oleh The Fed sejak semester I/2020 lalu. Sehingga, investor akan memanfaatkan momentum ini untuk masuk ke AS,” lanjutnya.

Meski demikian, Ramdhan menilai tingkat likuiditas pasar obligasi domestik masih cukup kuat. Hal ini dapat membantu meringankan sentimen negatif yang akan menekan pasar pada lelang SUN pekan depan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi sun sbn
Editor : Hadijah Alaydrus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top