Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Gaet Sinar Mas Agro (SMAR), Satelligence Ingin Komoditas Bebas Deforestasi

Dalam kerja sama itu, Sinar Mas Agribusiness and Food akan mengonsolidasikan pemantauan pada satu sistem guna memberikan gambaran menyeluruh tentang dampak rantai pasok.
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas
Pekerja memanen kelapa sawit di Desa Rangkasbitung Timur, Lebak, Banten, Selasa (22/9/2020). ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas

Bisnis.com, JAKARTA – Perusahaan agroteknologi Satelligence menegaskan visi perusahaan untuk mewujudkan komoditas yang bebas deforestasi dan mewujurkan lingkungan yang lebih berkelanjutan.

Hal tersebut diungkapkan oleh CEO Satelligence Niels Wielaard menyusul kerja sama strategis dengan PT Sinar Mas Agribusiness and Food Tbk terkait pemantauan risiko deforestasi dan rantai pasok minyak sawit emiten bersandi SMAR tersebut.

Mayoritas pasokan minyak kelapa sawit dunia berasal dari Indonesia dan, karena itu, terwujudnya lingkungan yang lebih berkelanjutan bukan hal mustahil melalui kemitraan dengan dunia usaha seperti SMAR.

“Dengan pemantauan risiko deforestasi yang lebih kredibel, hemat waktu, dan berbiaya ekonomis, kemitraan bersama ini dimaksudkan untuk menghapus kaitan antara praktik deforestasi dengan industri kelapa sawit di Indonesia,” ujar Niels dalam keterangan resmi SMAR terkait kerja sama tersebut, Kamis (25/2/2021).

Chief Operating Officer Sinar Mas Agribusiness and Food Tony Kettinger mengatakan bahwa kerja sama ini terjalin setelah melalui percobaan selama tiga bulan. Dalam kerja sama itu, perseroan akan mengonsolidasikan pemantauan pada satu sistem guna memberikan gambaran menyeluruh tentang dampak rantai pasok.

Sementara itu, Satelligence mengumpulkan informasi dari data aset rantai pasok, pemantauan satelit, dan sumber daya manusia dalam pemantauan risiko di lapangan. Langkah ini juga sebagai upaya perseroan mewujudkan komitmen konservasi untuk mengurangi deforestasi di industri kelapa sawit.

“Pelanggan menginginkan adanya kepastian bahwa pemasok seperti kami dapat mengidentifikasi dan bertindak cepat atas deforestasi yang terjadi di rantai pasoknya. Teknologi Satelligence membantu kami memberikan jaminan tersebut melalui penggunaan sistem tunggal yang terpadu,” ujar Kettinger.

Kettinger menjelaskan, di Indonesia, deforestasi yang terkait bisnis kelapa sawit terus mengalami penurunan sejak 2012 berkat kebijakan konservasi pemerintah dan komitmen swasta terhadap pemberantasan deforestasi. 

Walaupun demikian, rantai pasok kelapa sawit sangat panjang dan rumit, serta melibatkan banyak petani dan perusahaan kecil. Teknologi satelit membantu pelaku industri memantau dan melaksanakan komitmen antideforestasi masing-masing.

Lebih rinci, Teknologi Satelligence mampu mengatasi berbagai kendala dalam mengelola rantai pasok berkelanjutan, misalnya pembeli dan lembaga keuangan yang membebani pemasok, meningkatnya pelaporan yang sebelumnya kurang akurat, dan kekeliruan pemberitahuan mengenai terjadinya deforestasi dalam pemantauan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper