Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Rekomendasi Saham Grup Astra ACST dan AUTO Setelah Rilis Kinerja Keuangan

Kinerja PT Acset Indonusa Tbk. (ACST) dan PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) pada 2021 masih akan menghadapi tantangan dari mobilitas masyarakat yang masih minim serta bergantung proyek BUMN karya.
Rinaldi Mohammad Azka
Rinaldi Mohammad Azka - Bisnis.com 25 Februari 2021  |  06:10 WIB
Pirelli Diablo Rosso Sport ring 14 ini hadir dalam beberapa ukuran yaitu 70/90-14, 80/90-14, 90/90-14, 80/80-14, 90/80-14, dan 100/80-14 yang dipasarkan secara eksklusif oleh Astra Otoparts melalui Planet Ban.  - ASTRA OTOPART
Pirelli Diablo Rosso Sport ring 14 ini hadir dalam beberapa ukuran yaitu 70/90-14, 80/90-14, 90/90-14, 80/80-14, 90/80-14, dan 100/80-14 yang dipasarkan secara eksklusif oleh Astra Otoparts melalui Planet Ban. - ASTRA OTOPART

Bisnis.com, JAKARTA - Kinerja dua anak usaha emiten Grup Astra cukup terdampak pandemi Covid-19. Pada 2021, proyeksi kinerjanya belum dapat pulih dengan cepat dari kondisi pandemi.

Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengungkapkan kinerja PT Acset Indonusa Tbk. (ACST) dan PT Astra Otoparts Tbk. (AUTO) pada 2021 masih akan menghadapi tantangan dari mobilitas masyarakat yang masih minim serta bergantung proyek BUMN karya.

"Masih jadi pertanyaan besar, kegiatan masyarakat dan perekonomian bisa rebound atau tidak. Kalau ACST mungkin masih bisa memperbaiki kinerjanya kalau proyek-proyek infrastruktur dan konstruksi bisa kembali berjalan kencang di tahun ini," ujarnya kepada Bisnis, Rabu (24/2/2021).

Dengan demikian, kinerjanya sangat bergantung pada jumlah proyek konstruksi yang ada mengalami peningkatan dan ACST bisa mendapatkan bagian dari proyek-proyek tersebut.

Pasalnya, proyek pembangunan yang dikerjakan oleh mayoritas BUMN Karya saat ini masih memanfaatkan subkontraktor anak usaha. Ketika proyek konstruksi menjadi lebih banyak, emiten BUMN pun akan kewalahan dan meminta bantuan subkontraktor dari luar BUMN seperti ACST.

"Kalau seperti sekarang karena tak banyak proyek konstruksi BUMN memberikan subkontraktor ke anak usaha. Kalau banyak proyek yang dikerjakan mengalami peningkatan, akan kewalahan dan butuh pihak lain, ACST bisa peroleh porsi pengerjaan tersebut," katanya.

Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2020, emiten berkode saham ACST ini mengalami penurunan pendapatan jasa konstruksi sebesar 74,40 persen menjadi Rp844,43 miliar dibandingkan tahun sebelumnya Rp3,29 triliun.

Begitu pula jasa konstruksi dari pihak berelasi juga turun 39,25 persen menjadi Rp212,66 miliar dari sebelumnya Rp350,06 miliar.

Secara total, pendapatan ACST anjlok 69,48 persen menjadi Rp1,20 triliun dibandingkan tahun sebelumnya Rp3,94 triliun.

Rugi tahun berjalan ACST pun membengkak pada tahun lalu hingga Rp1,34 triliun atau naik 18,39 persen dari tahun sebelumnya Rp1,13 triliun.

Di sisi lain, emiten anak usaha Astra lainnya yakni AUTO pemulihan pada 2021 ini masih sedikit meragukan. Reza menilai ketika perekonomian 2021 telah pulih, masyarakat mungkin akan terbiasa dengan keseharian minim mobilitas.

"Karena masyarakat sudah terbiasa dengan melakukan kegiatan tidak lagi mobilitas tinggi, sepertinya membuat demand kendaraan belum tentu akan meningkat. Di sisi lain, jadwal penggantian suku cadang kendaraan yang ada mungkin belum akan meningkat signifikan juga," urainya.

Reza menilai kebijakan relaksasi pajak pertambahan nilai barang mewah (PPnBM) terhadap mobil pun bisa jadi belum berdampak signifikan terhadap penjualan mobil dan daya beli masyarakat.

Masyarakat terangnya, cenderung akan lebih menyimpan uang khawatir kondisi serupa pandemi Covid-19 bisa kembali terjadi dengan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang kembali membayangi.

"Ibaratnya pandemi banyak perusahaan tutup, lay off karyawan, ekonomi rebound, orang yang sudah kena PHK punya kerja lain, pasti akan lebih memilih untuk memperbesar tabungannya, karena khawatir kena PHK lagi," katanya.

Berdasarkan laporan keuangan per 31 Desember 2020, emiten bersandi AUTO ini mencatatkan laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk sebesar Rp2,24 miliar turun 99,7 persen, jauh lebih rendah dari laba bersih pada 2019 yang tercatat sebesar Rp739,67 miliar.

Anjloknya laba bersih ini terjadi akibat penurunan pendapatan perseroan pada 2020 yang menjadi Rp11,86 triliun turun 23,18 persen dari pendapatan pada 2019 yang sebesar Rp15,44 triliun.

Dengan kondisi demikian, Reza merekomendasikan hold bagi kedua emiten anak usaha Astra tersebut. Dia merekomendasikan AUTO untuk hold hingga level Rp1.100, sementara ACST diprediksi akan lebih sulit dan merekomendasikan hold dengan target price di Rp430.

Pada penutupan perdagangan Rabu (24/2/2021), saham ACST ditutup melemah 1,52 persen atau 6 poin ke level Rp388 dengan kapitalisasi pasar sebesar Rp2,49 triliun. Sementara itu, saham AUTO ditutup menguat 1,46 persen atau 15 poin ke level 1.040 dengan kapitalisasi pasar Rp5,01 triliun.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

astra rekomendasi saham astra otoparts Kinerja Emiten acset indonusa
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top