Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Volatilitas Pasar Mereda, Reksa Dana Siap Kembali Membara

Reksa dana saham yang membukukan imbal hasil 3,97 persen menjadi jawara, diikuti oleh reksa dana campuran dengan imbal hasil 2,60 persen.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 08 Februari 2021  |  20:00 WIB
Volatilitas Pasar Mereda, Reksa Dana Siap Kembali Membara
ILUSTRASI REKSA DANA. Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Usai mengalami goncangan di akhir Januari lalu, reksa dana mulai bangkit. Kinerja reksa dana pun diproyeksi kembali mengilap.

Berdasarkan data Infovesta Utama, seluruh jenis indeks reksa dana mencetak imbal hasil positif pada penutupan pekan lalu, 29 Januari 2021 hingga 5 Februari.

Reksa dana saham yang membukukan imbal hasil 3,97 persen menjadi jawara, diikuti oleh reksa dana campuran dengan imbal hasil 2,60 persen.

Kinerja moncer keduanya seiring dengan performa indeks harga saham gabungan (IHSG) yang naik sebesar 4,94 persen sepanjang periode 29-5 Februari 2021.

Selanjutnya, Kinerja Reksa Dana Pendapatan Tetap mencatatkan pertumbuhan positif sebesar 0,45 persen dan Kinerja Reksa Dana Pasar Uang tercatat positif sebesar 0,08 persen.

Jika dilihat sepanjang tahun berjalan, capaian kinerja pekan lalu membuat mayoritas reksa dana kembali membukukan imbal hasil positif secara year to date (ytd).

Di antara seluruh jenis reksa dana, secara ytd reksa dana campuran menjadi jawara dengan imbal hasil 1,06 persen, diikuti reksa dana saham 0,48 persen dan reksa dana pasar uang 0,39 persen. Sementara reksa dana pendapatan tetap masih minus 0,27 persen.

Head of Market Research Infovesta Utama Wawan Hendrayana mengatakan tren koreksi yang menekan pasar khususnya di saham telah mereda sehingga kinerja reksa dana kembali positif di awal Februari ini.

Wawan menilai koreksi pasar yang beruntun di akhir Januari salah satunya juga dipengaruhi oleh aksi jual paksa atau forced sell akibat transaksi margin yang dilakukan para investor ritel mengalami margin call. Ini terjadi seiring dengan meningkatnya aktivitas investor ritel.

Di sisi lain, pada Januari lalu juga investor banyak yang melakukan profit taking setelah di awal tahun harga-harga saham meroket.

“Itu sudah lewat, sekarang pasar melihat sentimen apalagi yang akan terjadi. Jadi tren seminggu terakhir pasar optimistis,” kata Wawan, Senin (8/2/2021)

Menurutnya meski pandemi masih belum terkendali sepenuhnya, pasar sudah melihat ada perkembangan positif seperti jumlah kasus terkonfirmasi positif yang mulai menurun di beberapa hari belakangan.

Selain itu, aktivitas masyarakat juga cenderung masih berjalan meski ada beberapa pembatasan sehingga investor tak lagi terlalu khawatir. Begitu pula dengan pengumuman rilis pertumbuhan ekonomi Indonesia yang sudah diprediksi oleh investor.

Sementara untuk kelas aset lainnya, seperti pendapatan tetap dan pasar uang, Wawan menilai tak ada katalis yang terlalu signifikan untuk beberapa waktu ke depan dan akan lebih fokus pada imbal hasil atau kupon masing-masing aset.

Direktur Panin Asset Management Rudiyanto mengatakan secara teknikal Februari ini pasar mengarah pada tren rebound setelah terkoreksi cukup dalam di akhir Januari lalu, terbukti dari kinerja di awal Februari yang mulai positif.

Di sisi lain, dia juga melihat aksi transaksi berdasarkan spekulasi berlebihan oleh para investor ritel mulai mereda, sehingga transaksi di pasar diproyeksi mulai kembali stabil.

“Saya lihat spekulasi berlebihan sudah jauh berkurang tapi masih lebih tinggi dibandingkan sebelum Covid, tapi sudah mudah mereda,” tutur Rudiyanto.

Senada, Kepala Makroekonomi dan Direktur Strategi Investasi PT Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat, mengatakan bahwa saat ini sentimen di pasar Indonesia lebih ke arah positif.

Dia menjelaskan, semua “insanity” yang melanda pasar modal beberapa waktu belakangan sangat dimungkinkan oleh limpahan likuiditas yang digelontorkan berbagai negara saat menghadapi pandemi.

“Berbagai aksi quantitative easing tidak hanya menyebabkan penurunan tajam suku bunga dan bond yield sangat tajam, namun juga telah memicu asset reflation termasuk pada saham dan digital asset.” jelas Budi.

Lebih lanjut, dia menyebut keadaan saat ini sudah mereda, apalagi angka pertumbuhan ekonomi Indonesia juga telah diumumkan dan hasilnya sejalan dengan prediksi sehingga pasar tidak terlalu responsif.

Di tengah kondisi seperti ini, Budi menyebut investasi di aset berbasis saham dan obligasi menjadi pilihan karena investor lebih realistis dan mencari potensi imbal hasil yang lebih menarik. Sementara untuk yang berbasis pasar uang cenderung lebih menjadi wadah “parkir” sementara.

“Larisnya penjualan SBN Ritel seri ORI019 itu jadi indikator orang sedang realistis, karena mencari yang lebih dari deposito. Ini positif,” kata Budi.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

reksa dana volatilitas investasi reksa dana
Editor : Hadijah Alaydrus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top