Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Banyak Drama, Transaksi Saham Selama Januari 2021 Sangat Meriah

Data menunjukkan, transaksi broker sepanjang Januari 2021 melesat 179 persen dibandingkan dengan Januari 2020.
Dhiany Nadya Utami
Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 03 Februari 2021  |  17:24 WIB
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Pekerja melintasi papan elektronik yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (1/2/2021). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA — Transaksi pialang saham sepanjang Januari 2021 ternyata sangat semarak dibandingkan periode Januari 2020. Sepanjang Januar 2021, pasar saham begitu riuh dengan berbagai drama, mulai dari tren auto reject bawah (ARB) berjamaah hingga kemunculan para influencer saham.

Transaksi pialang saham sepanjang Januari 2021 melonjak tinggi. Bahkan, nilai transaksi yang tercatat ditenggarai merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah.

Berdasarkan data Bloomberg, transaksi broker sepanjang Januari 2021 tercatat sebesar Rp849,12 triliun, melambung 179,57 persen dibandingkan transaksi sepanjang Januari 2020 lalu yang mencapai Rp303,72 triliun.

Realisasi tersebut juga jauh melampuai total transaksi sepanjang Januari di tahun-tahun sebelumnya, misalnya Januari 2019 total transaksi di bursa mencapai Rp448,1 triliun dan Januari 2018 mencapai Rp401,78 triliun.

Adapun, selama periode bulan pertama tahun ini, Mirae Asset Sekuritas menempati posisi pertama sebagai sekuritas dengan nilai transaksi tertinggi yakni Rp121,78 triliun, dengan rincian Rp60,65 triliun transaksi beli dan Rp61,12 triliun transaksi jual.

Pertumbuhan transaksi sekuritas berkode YP ini hampir 8 kali lipat dibandingkan total transaksi sekuritas pada periode yang sama tahun lalu, yang mana Mirae Asset hanya membukukan transaksi sekitar Rp15,53 triliun.

Mirae Asset paling banyak mentransaksikan saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) dengan total transaksi Rp23,71 triliun. Kemudian saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk. (BRIS) yang semula adalah PT Bank BRI Syariah Tbk. sebanyak Rp5,93 triliun.

Di posisi kedua ada Mandiri Sekuritas dengan total transaksi Rp75,59 triliun. Kendati tak lagi menjadi broker dengan nilai transaksi tertinggi, pertumbuhan nilai transaksi sekuritas berkode CC ini juga sangat tinggi, yakni melonjak dari Rp19,92 triliun pada Januari 2020.

Selanjutnya, ada Indo Premier Sekuritas dengan transaksi senilai Rp67,53 triliun sepanjang Januari 2021. Diikuti UBS Securities Indonesia dengan nilai transaksi Rp37,69 triliun dan CIMB Securities Indonesia Rp35,53 triliun.

Sepanjang Januari 2021, IHSG turun 1,95 persen dibandingkan penutupan IHSG akhir 2020, yakni 5.979,07. Sekadar mengingatkan, pada Januari 2021, bursa saham diwarnai banyak drama, mulai dari saham-saham yang menyentuh ARB hingga kalangan influencer saham dadakan. 

Saham farmasi hingga pertamabgann seperti PT Aneka Tambang Tbk sempat puasa cuan lebih dari tujuh sesi dan selama itu pula tiada hari tanpa ARB. Pergerakan sejumlah saham juga dinilai terlalu cepat. Belakanang diketahui, banyak investor debutan memulai investasi saham dari uang pinjaman.

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo Prasetio sebelumnya menilai IHSG mengalami siklus emosi pasar yang cukup cepat pada Januari 2021. Indeks sempat memasuki masa euforia saat menyentuh level harga tertinggi tahun ini di 6.504.

“Namun pada penghujung minggu terakhir bulan ini, IHSG masuk dalam masa yang mungkin bisa dilabeli dengan fase desperation. Pola candle yang terbentuk serentak merah, ditambah lagi aksi auto reject bawah[ ARB] yang berkelanjutan di saham-saham yang bahkan memiliki market cap yang besar,” paparnya kepada Bisnis, Jumat (29/1/2021).

Head of Investment Avrist Asset Management Farash Farich menjelaskan pelemahan IHSG belakangan ini dipengaruhi oleh tren perdagangan spekulatif yang membawa harga saham naik terlalu cepat. 

“Sepertinya di Indonesia agak mirip di AS, disinyalir banyak speculative trading yang mengangkat harga naik terlalu cepat untuk beberapa saham yang kemudian sekarang koreksi,” kata Farash kepada Bisnis, Kamis (28/1/2021).


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG sekuritas transaksi saham auto rejection
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top