Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Pantau Rencana Stimulus, Bursa Asia Rontok Berjamaah

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 0,75 persen dan 0,96 persen, sedangkanindeks Kospi melemah 2,14 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 26 Januari 2021  |  14:59 WIB
Bursa Saham Korea Selatan. -  Seong Joon Cho / Bloomberg
Bursa Saham Korea Selatan. - Seong Joon Cho / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia kompak melemah bersama dengan kontrak berjangka AS dan Eropa pada Selasa (26/1/2021) karena kekhawatiran atas jadwal rencana stimulus fiskal Presiden AS Joe Biden dan di tengah peringatan tentang potensi gelembung aset.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang masing-masing melemah 0,75 persen dan 0,96 persen, sedangkanindeks Kospi melemah 2,14 persen.

Indeks Hang Seng merosot 2,4 persen, terseret oleh pelemahan saham Tencent Holdings Ltd. setelah kapitalisasi pasar raksasa internet tersebut nyaris menyentuh US$1 triliun untuk pertama kalinya pada Senin (25/1).

Di China, indeks Shanghai Composite dan CSI 300 anjlok masing-masing 1,51 persen dan 2,01 persen setelah People’s Bank of China (PBOC) menarik uang tunai dari sistem perbankan dan seorang pejabat memperingatkan tentang gelembung aset.

Kontrak berjangka S&P 500 tergelincir menyusul komentar dari Pemimpin Mayoritas Senat Chuck Schumer bahwa kecil kemungkinan stimulus digelontorkan sebelum pertengahan Maret.

Bursa saham global telah melemah dari tertingginya karena investor mencari katalis baru untuk mendorong penguatan lebih lanjut atau mendukung valuasi saat ini. Itu bisa berasal dari serangkaian laporan pendapatan yang dirilis pekan ini.

Sementara itu, kemungkinan bahwa paket stimulus fiskal AS mungkin ditunda melemahkan alasan utama mengapa imbal hasil obligasi pemerintah naik awal tahun ini.

"Jika pasar keuangan membutuhkan konfirmasi lebih lanjut bahwa stimulus fiskal AS adalah satu-satunya pendorong, kawanan buy-everything menerimanya dalam semalam," ungkap analis pasar senior Oanda Asia Pacific Pte Jeffrey Halley, seperti dikutip Bloomberg.

“Keresahan dari anggota Senat partai Republik atas ukuran rencana stimulus cukup untuk menjatuhkan pasar saham dari level tertinggi intraday," lanjutnya.

Presiden Joe Biden mengatakan dia terbuka untuk negosiasi proposal stimulus Covid-19 senilai US$1,9 triliun, dan berharap untuk mendapatkan dukungan Partai Republik, meskipun tidak menutup kemungkinan mengejar jalur khusus dari Demokrat.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top