Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ancaman Delisting Mengintai, Mampukah Bakrie Telecom (BTEL) Bertahan di Lantai Bursa?

Dalam pengumuman di laman resmi Bursa Efek Indonesia, saham BTEL akan memasuki masa suspensi 24 bulan pada 27 Mei 2021.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 20 Januari 2021  |  16:05 WIB
Bakrie Telecom.  - Bisnis.com
Bakrie Telecom. - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Nasib status perusahaan terbuka PT Bakrie Telecom Tbk. (BTEL) tinggal hitungan bulan. Apabila tak ada upaya dari pihak perseroan, saham dengan kode BTEL itu akan terhapus dari lantai bursa pada 27 Mei 2021.

Dalam pengumuman di laman resmi Bursa Efek Indonesia, saham BTEL akan memasuki masa suspensi 24 bulan pada 27 Mei 2021.

Berdasarkan ketentuan III.3.1.2, BEI dapat menghapus secara paksa saham perusahaan tercatat yang disuspensi di pasar reguler dan pasar tunai atau hanya diperdagangkan di pasar negosiasi selama 24 bulant terakhir.

Adapun, saham BTEL disuspensi oleh bursa pada 27 Mei 2019 lantaran perseroan mendapatkan opini disclaimer sebanyak dua kali berturut-turut dari akuntan publik.

Saat ini pun, saham BTEL mendapatkan dua notasi khusus yaitu E dan D. Notasi khusus E menunjukkan laporan keuangan terakhir menunjukkan ekuitas negatif dan D menunjukkan adanya opini “Tidak Menyatakan Pendapatan (Disclaimer)” dari Akuntan Publik.

Dalam laporan keuangan per September 2020, BTEL mencatatkan pendapatan usaha Rp8,1 miliar. Nilai itu turun dari Rp10,27 miliar per September 2019.

Seiring dengan tingginya beban usaha dan beban keuangan, BTEL pun mencatatkan kerugian. Rugi bersih per September 2020 mencapai Rp60,17 miliar, berbalik dari laba Rp7,17 miliar per September 2019.

Arus kas dan setara kas hanya mencapai Rp305 juta. Nilai itu juga turun dari tahun sebelumnya sebesar Rp866 juta.

Parahnya, BTEL mencatatkan ekuitas negatif atau defisiensi modal neto sejumlah Rp9,67 triliun per September 2020. Namun, nilai itu masih lebih baik dibandingkan defisiensi modal Rp13,34 triliun per akhir 2019.

Total liabilitas BTEL berhasil berkurang menjadi Rp9,67 triliun dari sebelumnya Rp13,35 triliun. Aset BTEL pun hanya senilai Rp4,54 miliar, turun dari Rp11,23 miliar per akhir 2019.

Berdasarkan laporan keuangan per Juni 2020, susunan pemegang saham BTEL ialah PT Huawei Tech Invesment 16,8 persen, PT Mahindo Agung Sentosa 13,6 persen, PT Era Bhakti Persada 5,5 persen.

Selanjutnya, Best Quality Global Limited 6 persen, PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR) 0,1 persen, dan masyarakat 58 persen. Total saham beredar 36,77 miliar saham. Adapun, BTEL telah lama tertidur di level harga Rp50.

Dalam paparan publik 2020, manajemen BTEL menyampaikan pihaknya telah menyampaikan rencana pemulihan dan penguatan kinjera kepada publik melalui laman resmi BEI.

“Perseroan menyampaikan rencana kerja usaha untuk periode tahun 2020 sampai dengan 2021. Perseroan memiliki keyakinan untuk dapat meningkatkan performa Perseroan dengan target yang telah direncanakan dan dapat mengangkat suspensi saham,” tulis Manajemen BTEL.

Adapun di sepanjang 2019 hingga semester I/2020, BTEL melalui anak usaha PT Layanan Prima Digital dan PT Inovasi Teknologi Nusantara masih menjalankan kegiatan usaha di bidang jasa telekomunikasi.

Kegiatan itu khususnya di bidang penyediaan sambungan telepon dan data connectivity dengan pangsa pasar korporasi di bangunan tinggi, penyediaan contact center, dan penyediaan layanan teknologi informasi,dan infrastruktur.

Ke depannya, BTEL berencana menjadi perusahaan penyedia atau pengelola infrastruktur jaringan digital siaran televisi.

Sebagai tahap awal, BTEL telah memiliki pengikatan dengan stasiun televisi yang berada di bawah Grup VIVA.

“Selain itu anak perusahaan juga didorong untuk mengembangkan layanan teknologi informasi dengan memanfaatkan teknologi LoRa (Low Range) Internet of Things (IOT) serta proyek infrastruktur lainnya,” tulis manajemen BTEL.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa efek indonesia Grup Bakrie delisting suspensi saham bakrie telecom
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top