Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Lirik Saham Big Caps BBCA hingga ICBP, Bagaimana Prospeknya?

Sham-saham big caps berhasil mendapatkan kekuatan untuk mencetak kinerja positif seiring dengan arus dana asing yang cukup kencang pada awal tahun ini.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 15 Januari 2021  |  05:09 WIB
Karyawati beraktivitas di sekitar logo PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P
Karyawati beraktivitas di sekitar logo PT Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Kamis (4/6/2020). Bisnis - Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Investor mulai melirik saham dengan kapitalisasi pasar jumbo, setelah hampir sepanjang tahun lalu cenderung berpihak kepada saham dengan kapitalisasi kecil-menengah.

Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma mengatakan bahwa seiring dengan arus dana asing yang cukup kencang pada awal tahun ini, saham-saham big caps berhasil mendapatkan kekuatan untuk mencetak kinerja positif.

“Big caps mulai dilirik lagi karena asing kan sudah masuk, khususnya ke saham perbankan dan telekomunikasi,” ujar Suria kepada Bisnis, Kamis (14/1/2021).

Hal itu lah, menurut Suria, yang menyebabkan posisi empat besar saham dengan kapitalisasi pasar terjumbo, yaitu BBCA, BBRI, TLKM, dan BMRI berhasil mempertahankan posisinya sejak akhir perdagangan 2020.

Selain itu, Suria menjelaskan bahwa saat ini investor juga cenderung berpindah minat dari semula berpihak kepada saham sektor defensif seperti konsumer, ke saham sektor yang lebih agresif seperti tambang dan perbankan seiring dengan prospek pemulihan ekonomi.

Saham sektor barang konsumsi tak terkecuali saham big caps seperti UNVR, ICBP, hingga HMSP tampak kehilangan tenaga untuk mencetak kinerja baik pada tahun ini, dan terpantau menetap di zona merah.

Hal itu pun tercermin, di antara saham big caps lainnya hanya ketiga saham tersebut yang mencatatkan kinerja negatif sepanjang tahun berjalan 2021. Secara year to date UNVR terkoreksi 6,35 persen, ICBP turun 2,35 persen, dan HMSP turun 1,95 persen,

Suria pun mengaku tidak kaget, saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, BRPT, berhasil mendepak saham grup Salim, ICBP, dari daftar 10 besar saham kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Hal itu mengingat duo emiten Prajogo Pangestu, BRPT dan TPIA, saat ini berhasil tersulut sentimen harga minyak yang saat ini tengah menguat. BRPT terpantau naik 4,5 persen sepanjang tahun berjalan 2021, sedangkan TPIA naik 8,85 persen.

Adapun, di antara saham 10 besar big caps saat ini Suria menjadikan 4 saham bank terbesar dan TLKM sebagai saham pilihan utamanya seiring dengan sentimen yang tengah bergulir saat ini.

Secara terpisah, Analis Sucor Sekuritas Hendriko Gani mengatakan bahwa prospek saham-saham big caps pada tahun ini sangat baik. Dia melihat saham perbankan seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI yang siap memimpin penguatan saat ini.

“Namun, UNTR juga memiliki potensi yang baik seiring dengan pemulihan ekonomi di tahun ini karena saham tersebut berpotensi membukukan perbaikan kinerja dan berpotensi tercermin pada harga sahamnya,” ujar Hendriko kepada Bisnis, Kamis (14/1/2021).

Selain itu, Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo juga menjadikan UNTR sebagai salah satu saham big caps yang dapat dicermati investor saat ini.

Dia menjelaskan, prospek UNTR cukup baik karena diversifikasi lini bisnisnya, dan banyak sentimen positif yang saat ini mendukung, seperti kenaikan harga batubara, tren harga emas, permintaan alat berat, dan jasa konstruksi.

Untuk diketahui, UNTR saat ini menduduki posisi ke 15 besar saham dengan kapitalisasi pasar terjumbo di BEI, yaitu sebesar Rp97,73 triliun. Pada penutupan perdagangan Kamis (14/1/2021) UNTR parkir di level Rp26.300, naik 0,38 persen.

Selain itu, Frankie juga berpihak kepada saham BBNI dan BRPT di antara saham-saham big caps lainnya.

“Karena, investor saat ini lebih mengalokasinya portfolionya ke sektor yang lebih memiliki sentimen positif, yang relevan dimasa sekarang, seperti mining, kimia farmasi dan teknologi,” papar Frankie kepada Bisnis.

Sementara itu, Analis Senior CSA Research Institute Reza Priyambada mengatakan bahwa sentimen yang saat ini kencang berhembus di pasar sangat menguntungkan saham sektor farmasi.

Dengan demikian, bukan tidak mungkin saham sektor farmasi di kemudian hari dapat menyusul untuk masuk jajaran 10 besar saham big caps. Apalagi, jika di tengah sentimen positif saat ini terdapat emiten farmasi yang mengumumkan akan ada aksi korporasi penambahan jumlah saham beredar.

“Bisa saja saham farmasi, kalau naik terus dan ke depan misal ada aksi korporasi menambahkan jumlah saham yang beredar, perdagangan makin ramai dan potensi market cap untuk naik pesat, tentu ada,” ujar Reza kepada Bisnis.

Untuk diketahui, di antar saham sektor farmasi, KLBF memiliki kapitalisasi pasar terbesar, yaitu Rp74,77 triliun.

Di sisi lain, di antara 10 besar saham big caps saat ini yang bisa menjadi pertimbangan investor sesuai dengan price to book value (PBV) adalah BMRI, ASII, dan BBNI.

Namun, untuk investor yang ingin memanfaatkan momentum untuk trading bisa mempertimbangkan ICBP, TPIA, dan HMSP.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG bca rekomendasi saham big caps
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top