Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jelang Pertemuan OPEC+, Harga Minyak Kian Mendidih

OPEC+ akan membahas rencana peningkatan produksi minyak hingga 500 ribu barel pada Senin waktu setempat. Bila disahkan, hal ini akan diberlakukan untuk produksi minyak pada Februari 2021.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  07:25 WIB
Pemandangan pipa minyak di dekat pusat penyimpanan di Cushing, Oklahoma. - - Bloomberg.
Pemandangan pipa minyak di dekat pusat penyimpanan di Cushing, Oklahoma. - - Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA - Harga minyak dunia melanjutkan penguatannya seiring dengan nilai dolar yang melemah. Kenaikan tersebut terjadi jelang pertemuan OPEC+ yang akan membahas penambahan produksi minyak dunia untuk bulan depan. 

Dilansir dari Bloomberg pada Senin (4/1/2021), harga minyak West Texas Intermediate (WTI) sempat naik hingga 2,08 persen ke level US$49,53 per barel di New York Mercantile Exchange hingga Senin sore. 

Sedangkan harga minyak Brent juga menguat 2,36 persen ke posisi US$53,02 di ICE Futures Europe. Penguatan ini sekaligus memperpanjang tren positif harga minyak dunia yang telah naik selama empat hari beruntun. 

Harga minyak berjangka di New York terus naik hingga US$49 per barel setelah naik 0,6 persen pada pekan lalu. Kenaikan ini terjadi jelang pertemuan yang akan dilakukan oleh Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau OPEC+.

Dalam pertemuan tersebut, OPEC+ akan membahas rencana peningkatan produksi minyak hingga 500 ribu barel pada Senin waktu setempat. Bila disahkan, hal ini akan diberlakukan untuk produksi minyak pada Februari 2021.

Di sisi lain, pandemi virus corona yang berkelanjutan juga turut mempengaruhi harga minyak. Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengatakan kebijakan lockdown yang lebih ketat kemungkinan akan semakin mendesak untuk diberlakukan.

Hal serupa juga tengah dipertimbangkan oleh Jepang. Pemerintah Jepang sedang membahas terkait pemberlakuan kembali keadaan darurat nasional.

Sementara itu, tingkat permintaan minyak di China terbilang lebih baik dibandingkan dengan negara lain. Meski demikian, musim dingin yang buruk dan pemadaman listrik yang terus terjadi membuat pabrik-pabrik setempat beramai-ramai memasang generator berbahan bakar diesel.

Harga minyak acuan Amerika Serikat saat ini diperdagangkan mendekati US$49 per barel seiring dengan sikap pelaku pasar yang mempertimbangkan prospek permintaan energi dalam jangka pendek dan kenaikannya setelah proses vaksin virus corona dilakukan secara luas.

Adapun harga minyak turut terbantu oleh pelemahan nilai dolar AS. Koreksi mata uang ini meningkatkan daya tarik komoditas seperti minyak yang priced in dalam dolar AS.

Selain itu, hubungan AS dan Iran yang kembali memanas juga berimbas pada kenaikan harga minyak. Dilansir dari Bloomberg, Pelaksana Tugas Menteri Pertahanan AS, Chris Miller mengatakan, Kapal Induk USS Nimitz akan tetap berada di wilayah Laut Arab dalam beberapa waktu ke depan.  Peluncuran armada laut AS tersebut menyusul ancaman yang dikeluarkan Iran kepada AS. 

Founder Vanda Insights Vandana Hari mengatakan, pelemahan dolar AS tidak hanya berimbas pada kenaikan harga minyak. Ia mengatakan, investor berbondong-bondong masuk ke seluruh pasar komoditas.

"Tensi hubungan AS-Iran juga ikut mempengaruhi reli harga minyak," lanjutnya. 

Terkait pertemuan OPEC, Vanda mengatakan peluang penambahan produksi minyak masih 50-50. Ia mengatakan, keputusan OPEC+ pada Desember lalu tidak memunculkan aksi jual besar-besaran.

Adapun, pada pertemuan OPEC Minggu (3/1/2021) kemarin, sejumlah negara masih ragu untuk meningkatkan output harian, termasuk Arab Saudi. Hingga kini, Arab Saudi belum mengemukakan pendapatnya secara publik terhadap rencana ini.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo mengatakan, outlook produksi minyak pada semester I/2021 masih dibayangi oleh ketidakpastian.

"Masih banyak risiko-risiko negatif yang perlu dipertimbangkan," ujarnya.

Barkindo menjelaskan, pertimbangan penambahan produksi minyak dunia adalah pemulihan harga minyak dan munculnya vaksin virus corona. 

Ia menuturkan, sentimen vaksin virus corona telah meningkatkan angka konsumsi minyak dunia. Tren ini diprediksi akan berlanjut pada masa mendatang. 

Sementara itu, Wakil Menteri Energi Rusia Alexander Novak menyatakan pihaknya siap menambah pasokan minyak dunia. Menurutnya, saat ini harga minyak dunia berada di level yang optimal, di kisaran US$45 hingga US$55 per barel. 

"Apabila OPEC+ membatalkan rencana penambahan ini, kompetitor lain akan mengisi kekosongan pasokan minyak dunia," jelasnya. 

Rencana penambahan produksi ini tidak hanya didukung oleh Rusia. Uni Emirat Arab sebelumnya telah mengumumkan rencana peningkatan produksi dan memperkenalkan produk acuan minyak regional. 

Negara lain yang diperkirakan terdampak positif oleh penambahan ini adalah Irak. Saat ini, negara tersebut tengah menghadapi krisis ekonomi yang diperburuk dengan pembatasan penjualan minyak pada 2020 lalu.

Data dari JBC Energy menyebutkan, jumlah produksi minyak OPEC pada Desember 2020 adalah sebesar 25,3 juta barel per hari. Angka tersebut naik 190 ribu barel per hari dibandingkan dengan catatan bulan sebelumnya.

Dari data tersebut, Libya menjadi kontributor terbesar dalam penambahan output minyak dunia. Menyusul di belakangnya adalah Angola, Aljazair, Iran, Uni Emirat Arab, dan Venezuela. 

Sementara itu, laporan dari International Energy Agency menyebutkan, pergerakan harga minyak dunia tetap terjaga ditengah rencana penambahan produksi harian oleh OPEC+. Hal ini ditopang oleh perkembangan vaksin virus corona dan konsumsi minyak yang terjaga di Asia. 

"Pasokan dan permintaan minyak diperkirakan berada pada level yang seimbang pada semester I/2021," demikian kutipan laporan tersebut. 

Sementara itu, Chief Investment Officer Merchant Commodity Fund Doug King mengatakan, pasar minyak telah memiliki penopang yang menjadi underlying harga. Hal tersebut membuat harga minyak tidak akan bergerak fluktuatif meskipun OPEC+ menambah produksinya.

Chief Commodities Strategist RBC Capital Markets LLC, Helima Croft memperkirakan OPEC+ akan membatalkan rencana kenaikan produksi minyak. Hal ini terjadi seiring dengan kembali melonjaknya kasus positif virus corona di dunia.

"Selain itu, proses distribusi vaksin virus corona juga lebih lamban dari perkiraan sebelumnya," lanjutnya.

Secara terpisah, Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan, faktor pertemuan OPEC+ tidak akan berpengaruh signifikan terhadap harga minyak dunia dalam beberapa waktu ke depan. 

“Sentimen ini sudah diperhitungkan (priced in) oleh pelaku pasar, sama seperti faktor lain yakni vaksin virus corona, tren reflationary trade, dan stimulus AS," katanya saat dihubungi pada Senin (4/1/2021).

Ia memperkirakan, harga minyak dunia diprediksi akan menembus level US$50 per barel dalam waktu dekat. Adapun pada kuartal I/2021, harga minyak diprediksi berada di kisaran US$35 hingga US$60 per barel.

"Sepertinya untuk menembus US$50 hanya masalah waktu saja," katanya. 

Ia melanjutkan, level harga US$40 menjadi tingkat gravitasional jika harga minyak menguat ke depannya. Level harga tersebut juga menjadi dasar jangka panjang untuk pergerakan harga minyak.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak opec harga minyak brent harga minyak mentah wti
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top