Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Bos OJK: Omnibus Law Bakal Bikin Pasar Modal Bergairah

OJK menilai penerapan omnibus law UU Cipta kerja bakal menjaga kepercayaan investor dan pelaku pasar modal terhadap fundamental, prospek ekonomi Indonesia, dan integritas pasar modal.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 30 Desember 2020  |  16:49 WIB
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai Omnibus Law Cipta Kerja akan membantu menggairahkan pasar modal dalam negeri pada tahun depan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan bahwa menjaga kepercayaan investor dan pelaku pasar modal terhadap fundamental, prospek ekonomi Indonesia, dan integritas pasar modal menjadi poin sangat penting bagi pengembangan industri pasar modal dalam negeri.

Oleh karena itu, dia mengapresiasi langkah Pemerintah dalam mendukung industri Pasar Modal melalui Omnibus Law Cipta Kerja yang memberikan angin segar bagi pelaku pasar modal dalam bentuk insentif fiskal dan penyederhanaan proses penerbitan Obligasi Daerah. 

“Kami percaya, ke depan kebijakan ini akan menstimulasi kalangan korporasi untuk go public dan meningkatkan minat investor untuk berinvestasi di pasar modal nasional sehingga dapat menambah  daftar capaian pasar modal kita,” ujar Wimboh saat seremoni penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia 2020, Rabu (30/12/2020).

Pada penutupan perdagangan terakhir tahun ini, Rabu (30/12/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) parkir di level 5.979,073, terkoreksi 0,95 persen dari perdagangan sebelumnya. Sepanjang 2020, IHSG tercatat melemah 5,09 persen.

Wimboh mengatakan bahwa pandemi Covid-19 yang terjadi hampir sepanjang tahun 2020 tidak serta merta menyurutkan semangat para pelaku pasar modal untuk mengambil momentum meningkatkan kinerja.

“Pasar modal kita tercatat semakin likuid dan dalam, tercermin dari naiknya rata-rata frekuensi perdagangan menjadi yang tertinggi di Aseanujar Wimboh saat seremoni penutupan perdagangan Bursa Efek Indonesia 2020, Rabu (30/12/2020).

Hingga 29 Desember 2020 total arus dana asing keluar di pasar modal mencapai Rp47,89 Triliun dan Rp86,83 Triliun di pasar SBN per 28 Desember lalu.

Kendati demikian, Bursa Efek Indonesia berhasil mencatatkan rata-rata frekuensi perdagangan menjadi yang tertinggi di Asean dan kenaikan jumlah investor pasar modal menjadi 3,87 juta investor atau naik 56 persen dibandingkan dengan tahun lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

IHSG bursa efek indonesia OJK Omnibus Law
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top