Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Berkat Kesepakatan Brexit, Indeks FTSE 100 Inggris Pimpin Penguatan Bursa Eropa

Duta Besar Uni Eropa telah memberikan lampu hijau untuk rancangan perjanjian perdagangan bebas dengan Inggris, sehingga membuka jalan untuk persetujuan resmi pada hari Selasa.
Bursa Efek London - London Stock Exchange/Blomberg
Bursa Efek London - London Stock Exchange/Blomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Inggris melonjak pada Selasa (29/12/2020) sekaligus memimpin penguatan indeks negara-negara Eropa, dalam sesi perdagangan pertama sejak kesepakatan Brexit dicapai antara Inggris dan Uni Eropa.

Berdasarkan data Marketwatch, indeks FTSE 100 Inggris menguat 1,74 persen ke level 6.616,03. Menyusul di belakangnya, indeks DAX Jerman menguat 0,67 persen, CAC 40 Prancis naik 0,49 persen, dan FTSE MIB Italia naik 0,24 persen.

Sementara itu, indeks Stoxx Europe 600 terpantau menguat 0,9 persen atau 3,57 poin ke level 402,15 pada pukul 15.50 WIB.

Dilansir Bloomberg, penguatan indeks FTSE 100 didorong oleh saham yang paling terekspos pada ekonomi Inggris, seperti pengembang perumahan dan operator perjalanan.

Sebelumnya, Duta Besar Uni Eropa telah memberikan lampu hijau untuk rancangan perjanjian perdagangan bebas dengan Inggris, membuka jalan untuk persetujuan resmi pada hari Selasa.

Sementara itu, minat terhadap aset berisiko juga meningkat setelah Presiden AS Donald Trump menandatangani RUU stimulus fiskal. Di antara penggerak individu, pengembang taman angin lepas pantai Orsted A/S naik 0,2 persen setelah setuju untuk menjual saham di pertanian Taiwan senilai US$2,7 miliar.

Meskipun pandemi dan lockdown telah membebani saham Eropa tahun ini, ekuitas melanjutkan pemulihan di tengah perkembangan vaksin yang positif. Indeks Stoxx 600 menuju kenaikan 3,1 persen pada bulan Desember.

Analis Comdirect Bank Andreas Lipkow mengatakan bahwa tak lama setelah liburan Natal, prospek yang lebih penuh harapan untuk pemulihan ekonomi AS tahun depan dapat terus mengangkat pergerakan saham.

“Tetap menarik untuk dilihat, apakah pasar saham dapat menggunakan lebih banyak momentum atau apakah mereka akan mengalami potensi aksi ambil untung, karena reli akhir tahun telah mendorong banyak saham menuju rekor baru dan beberapa investor dapat tergoda untuk mengambil melakukan profit taking,” kata Lipkow, seperti dikutip Bloomberg.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper