Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PM Inggris Boris Johnson Mundur, Poundsterling & Bursa Inggris Menghijau

Poundsterling dan indeks utama Inggris menguat setelah PM Boris Johnson memutuskan akan mengundurkan diri dari posisinya saat ini setelah menghadapi tekanan dari dalam pemerintahannya sendiri.
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali dari Parlemen di London, Inggris, pada Rabu (30/12/2020)./Bloomberg
Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali dari Parlemen di London, Inggris, pada Rabu (30/12/2020)./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Mata uang poundsterling menguat dan bursa saham Inggris menghijau pada perdagangan hari ini, Kamis (7/7/2022), setelah Perdana Menteri Boris Johnson dikabarkan berencana untuk mengundurkan diri.

Berdasarkan data Bloomberg, poundsterling menguat 0,56 persen ke level US$1,1993 pada pukul 16.42 WIB. Sementara itu, idneks FTSE 100 melonjak 1,14 persen ke level 7.188,97.

Perdana Menteri Inggris Boris Johnson pada Kamis (7/7/2022) memutuskan akan mengundurkan diri dari posisinya saat ini setelah menghadapi tekanan dari dalam pemerintahannya sendiri.

Namun, Johnson akan tetap menjalankan tugas sebagai PM sementara hingga Oktober 2022. Setelahnya, pemimpin baru dari partai Konservatif baru akan dilantik tepat saat konferensi tahunan partai.

Investor mengatakan berita rencana pengunduran diri PM Boris Johnson memberikan beberapa bantuan awal untuk aset Inggris, yang telah terpukul oleh inflasi tinggi negara itu, pelemahan ekonomi, dan ketidakpastian politik.

“Pasar valas akan berharap bahwa setiap pemimpin baru akan berusaha untuk memulihkan persatuan partai dan memungkinkan Tories untuk memerintah lebih efektif pada saat krisis biaya hidup membayangi ekonomi,” kata analis Credit Agricole Valentin Marinov, seperti dilansir Bloomberg, Kamis (7/7/2022).

Sementara itu, analis valas Nomura Jordan Rochester mengatakan penguatan poundsterling menyusul berita pengunduran diri Boris agak sedikit dipaksakan karena tidak ada jaminan bahwa penerusnya akan memberikan dorongan fiskal.

“Tetapi saya memiliki beberapa orang yang mengatakan kepada saya bahwa mereka pikir ini adalah alasan untuk membeli poundsterling, jadi jelas ini adalah langkah yang didorong oleh sentimen,” ungkap Rochester.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper