Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Obligasi Moncer, Real Yield Obligasi Indonesia Masih Menarik

Tingginya likuiditas di sistem finansial meningkatkan permintaan untuk obligasi, karena perbankan yang mengalami kelebihan likuiditas dapat memarkir dananya di obligasi.
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 23 Desember 2020  |  05:00 WIB
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam
Ilustrasi OBLIGASI. Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar obligasi mencatat kinerja yang moncer pada tahun ini dimotori oleh beberapa sentimen termasuk real yield obligasi Indonesia yang masih menarik hingga tahun depan. 

Mengacu pada indeks obligasi Bloomberg Indonesia Local Sovereign Index (BINDO), pasar obligasi berada di posisi 294,19, menguat 14,32 persen secara year to date.

Indeks pernah menyentuh level terendahnya pada 24 Maret 2020 pada level 246,21, dan level tertingginya yakni 18 Desember 2020 pada level 294,78.

Dalam kondisi ketidakpastian ekonomi, kelas aset obligasi memang menjadi salah satu pilihan bagi investor untuk mengurangi tingkat risiko portofolio.

Director and Chief Investment Officer Fixed Income PT Manulife Asset Manajemen Indonesia (MAMI) Ezra Nazula mengatakan secara umum kinerja pasar obligasi didukung oleh tren penurunan suku bunga secara global termasuk di Indonesia.

“Kondisi ini menjadi iklim yang suportif bagi pasar obligasi, terutama bagi investor yang mencari yield lebih menarik di tengah tren penurunan suku bunga,” ungkapnya dikutip dari rilis pers, Senin (21/12/2020).

Tingginya likuiditas di sistem finansial meningkatkan permintaan untuk obligasi, karena perbankan yang mengalami kelebihan likuiditas dapat memarkir dananya di obligasi.

Sementara itu, peranan otoritas dan regulator dalam menerapkan kebijakan yang tepat dan kredibel sangat penting untuk menjaga keyakinan pasar di tengah kondisi pasar yang volatil.

“Secara umum pemerintah dan Bank Indonesia berhasil melakukan hal tersebut, terlihat dari permintaan investor domestik yang kuat dan investor asing yang mulai kembali masuk ke pasar obligasi Indonesia,” sambungnya.

MAMI melihat 2021 sebagai tahun pemulihan ekonomi. Obligasi Indonesia masih menawarkan tingkat real yield yang menarik di antara negara berkembang lain.

Sebagai gambaran, real yield obligasi 10-tahun Indonesia saat ini di kisaran 4,6 persen, sementara Filipina -0,5 persen dan India -1,7 persen, yang menjadikan daya tarik tinggi bagi obligasi Indonesia.

“Dengan dinamika global dan domestik tersebut kami memproyeksikan imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun dapat berpotensi turun ke level 5,5 – 6 persen di 2021, sehingga masih memberikan potensi upside bagi investasi di pasar obligasi,” sambungnya.

MAMI sendiri memiliki filosofi pengelolaan portofolio secara aktif yang dilakukan berdasarkan riset fundamental. Filosofi ini memberi fleksibilitas untuk menyesuaikan posisi portofolio dengan kondisi pasar terkini sehingga mendapatkan risk-return tradeoff yang optimal.

“Kami juga memanfaatkan jaringan global Manulife Investment Management untuk mendapat pandangan dari analis lokal terkait kondisi pasar dan sentimen investor global yang dapat mempengaruhi risk appetite pasar obligasi Indonesia,” katanya.

Untuk saat ini, MAMI masih memandang positif potensi pasar obligasi, didukung oleh beberapa faktor seperti tingkat imbal hasil riil obligasi Indonesia yang masih menarik, potensi arus dana asing yang kembali ke negara berkembang termasuk Indonesia, tingkat suku bunga yang tetap akomodatif, dan likuiditas di pasar finansial yang tinggi dapat memberi support untuk pasar obligasi. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi yield manulife indonesia
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top