Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Trump Minta Perubahan Stimulus, Bursa Asia Tetap Menguat

Indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup menguat masing-masing 0,23 persen dan 0,33 persen. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,96 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 23 Desember 2020  |  15:28 WIB
Bursa Asia -  Bloomberg.
Bursa Asia - Bloomberg.

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Asia menguat pada rabu (23/12/2020) terlepas dari adanya sentimen permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk perubahan pada undang-undang stimulus pandemi.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Topix dan Nikkei 225 Jepang ditutup menguat masing-masing 0,23 persen dan 0,33 persen. Sementara itu, indeks Kospi Korea Selatan menguat 0,96 persen.

Di China, indeks Shanghai Composite menguat 0,76 persen dan CSI 300 menguat 0,85 persen. Adapun indeks Hang Seng Hong Kong menguat 0,74 persen.

Donald Trump sebelumnya menuntut agar anggota parlemen meningkatkan jumlah stimulus yang diberikan kepada sebagian besar warga AS menjadi US$2.000 dari US$600, sehari setelah Kongres mengesahkan paket bantuan bipartisan senilai US$900 miliar.

Investor juga terus menimbang sentime peluncuran vaksin setelah varian virus corona baru memicu lockdown yang lebih ketat di sejumlah negara di dunia.

Komentar Trump tersebut menimbulkan keraguan tentang berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk agar RUU tersebut disahkan dan uang didistribusikan ke warga AS. Sentimen tersebut bisa membawa kegelisahan baru untuk reli saham global.

“Untuk saat ini, pasar tampaknya menahan diri untuk melakukan aksi jual sampai situasinya menjadi jelas,” kata analis pasar senior Asia Pasifik di Oanda, Jeffrey Halley.

Sementara itu, jenis Covid-19 baru yang muncul di Inggris kemungkinan sudah ada di AS, Jerman, Prancis, dan Swiss, kata pejabat di negara-negara tersebut.

Inggris juga mencoba menyelamatkan perjanjian perdagangan bebas dengan Uni Eropa, yang menolak konsesi terbaru Perdana Menteri Boris Johnson tentang hak penangkapan ikan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Bursa Asia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top