Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OJK Sebut Pendanaan dari Pasar Modal Tahun Depan Tembus Rp180 Triliun

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai pendanaan lewat pasar modal tahun depan bakal semarak dengan potensi mencapai Rp180 triliun pada tahun depan.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 22 Desember 2020  |  15:35 WIB
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam
Karyawan berada di dekat logo Otoritas Jasa Keuangan di Jakarta, Jumat (17/1/2020). Bisnis - Abdullah Azzam

Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kapasitas pendanaan dari pasar modal yang cukup tinggi dapat dijadikan alternatif di tengah perlambatan kredit perbankan saat ini. Pendanaan dari pasar modal diperkirakan bisa menembus Rp180 triliun pada tahun depan.

Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan tingkat kredit perbankan pada 2021 masih akan sulit naik ke level normal sebesar 7 persen - 8 persen. Pasalnya, perbankan masih harus mengkompensasi penurunan yang terjadi di sepanjang 2020.

Dengan demikian, OJK memperkirakan paling tidak pemulihan kredit perbankan hanya akan mencapai kisaran 6 persen - 7 persen pada 2021. Wimboh pun menilai alternatif sumber pendanaan dari pasar modal dapat dicermati karena likuiditas terbilang tinggi.

“Di pasar modal ini kami agak optimis, di pasar modal bisa mencapai raising fund itu sekitar Rp150 triliun - Rp180 triliun,” kata Wimboh, Selasa (22/12/2020).

Wimboh melanjutkan bahwa pihaknya telah menerima sejumlah perusahaan yang akan menggalang dana di pasar modal, baik penerbitan saham maupun surat utang. Dengan tenaga investor ritel domestik yang kuat saat ini, performa pasar saham diperkirakan lebih terjaga dari tantangan kontraksi besar-besaran.

Menurut Wimboh, sejumlah kebijakan yang dikeluarkan oleh otoritas seperti penyesuaian jam perdagangan, batas auto reject, serta sejumlah relaksasi lainnya menjadi salah satu penahan IHSG jatuh lebih dalam.

“Meskipun IHSG sempat turun sampai 4.000 tapi sekarang sudah kembali di atas 6.000. Ini semua adalah angka-angka yang menunjukkan optimisme bahwa sudah ada tanda-tanda pertumbuhan,” tutur Wimboh.

Pada akhir perdagangan Selasa (22/12/2020), IHSG ditutup koreksi 2,31 persen menjadi 6.019. Di sepanjang hari perdagangan, indeks bergerak di zona merah setelah menyentuh level tertingginya pada 6.174.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

pasar modal otoritas jasa keuangan
Editor : Rivki Maulana

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top