Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Siap Garap Proyek Furnace 4, Vale Indonesia (INCO) Patok Capex US$135 Juta pada 2021

Alokasi capital expenditure (capex) itu lebih besar dibandingkan dengan alokasi tahun ini yang ditargetkan sekitar US$120 juta.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 16 Desember 2020  |  17:32 WIB
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki
Articulated dump truck mengangkut material pada pengerukan lapisan atas di pertambangan nikel PT. Vale Indonesia di Soroako, Luwu Timur, Sulawesi Selatan, Kamis (28/3/2019). - ANTARA/Basri Marzuki

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pertambangan mineral, PT Vale Indonesia Tbk., mengalokasikan belanja modal atau capital expenditure sebesar US$135 juta pada 2021.

Direktur Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan bahwa alokasi capital expenditure (capex) itu lebih besar dibandingkan dengan alokasi tahun ini yang ditargetkan sekitar US$120 juta. Hal itu sejalan dengan realisasi pengerjaan proyek pembangunan ulang furnace 4 yang sempat tertunda pada tahun ini.

“[Capex 2021] sebagian besar digunakan untuk rebuild furnace 4. Ada alokasi capital untuk mine development dan juga penggantian alat juga. Estimasi alokasi capital pada 2021 di kisaran US$135juta,” ujar Irmanto kepada Bisnis.com, Rabu (16/12/2020).

Untuk diketahui, emiten berkode saham INCO menunda proyek peremajaan furnace 4 yang semula direncanakan berjalan pada kuartal IV/2020, menjadi akan dilaksanakan pada Mei 2021.

Padahal, sebagian besar alokasi capex perseroan pada tahun ini akan digunakan untuk proyek peremajaan fasilitas tambang itu. Berdasarkan catatan Bisnis, perseroan membutuhkan setidaknya sebesar US$70 juta untuk pembangunan ulang furnace 4.

Adapun, penundaan proyek itu mempertimbangkan pandemi Covid-19 yang masih berlangsung karena proyek tersebut cukup masif membutuhkan tenaga kerja hingga 1.000 pekerja dan periode pengerjaan hingga 5 bulan. 

Tidak hanya itu, pandemi Covid-19 juga menghambat laju material yang dibutuhkan oleh proyek itu dan terdapat beberapa kendala dari jasa kontraktor.

Sementara itu, Irmanto mengatakan bahwa sebagian belanja untuk keperluan furnace rebuild sudah dimulai oleh perseroan pada tahun ini untuk memastikan proyek dapat dimulai sesuai target dan tidak tertunda lagi.

Irmanto menjelaskan bahwa alokasi capex itu akan berasal dari kas internal perseroan. 

Di sisi lain, dengan berjalannya proyek tersebut pada tahun depan INCO memproyeksi volume produksi perseroan akan berada di tingkat yang lebih rendah daripada 2020 maupun 2019.

Sebagai gambaran, pada kuartal III/2020, INCO mencacatkan volume produksi nikel dalam matte sebanyak 19.477 ton. Realisasi itu lebih tinggi 4 persen dibandingkan dengan volume produksi perseroan pada kuartal sebelumnya sebesar 18.701 ton. 

Namun, realisasi itu lebih rendah daripada produksi kuartal III/2019 di kisaran 19.820 ton.

Dengan demikian, dalam sembilan bulan pertama tahun ini produksi nikel dalam matte INCO sebesar 55.792 ton, naik 10 persen dibandingkan dengan produksi pada periode yang sama tahun lalu sebesar 50.531 ton. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

belanja modal vale indonesia tbk
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top