Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Lockdown Kembali Marak, Wall Street Menguat Lagi

Peningkatan kasus infeksi virus corona membuat berbagai negara menerapkan status waspada hingga menerapkan lockdown. Saham-saham teknologi pun naik karena dinilai akan mendapat keuntungan saat masyarakat dipaksa tinggal di rumah.
Rivki Maulana
Rivki Maulana - Bisnis.com 20 November 2020  |  05:58 WIB
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. -  Michael Nagle / Bloomberg
Tanda Wall Street tampak di depan Bursa Efek New York (NYSE) di New York, AS. - Michael Nagle / Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA - Bursa saham Amerika Serikat kembali menguat pada perdagangan Kamis (19/11/2020) setelah sejumlah pembatasan baru diterapkan di berbagai negara menyusul peningkatan kasus infeksi virus corona (Covid-19).

Dilansir dari Bloomberg, indeks acuan S&P 500 ditutup menguat 0,39 persen. Kemudian indeks Dow Jones Industrial Average dan Nasdaq Composite juga naik masing-masing 0,15 persen dan 0,40 persen.

Saham-saham teknologi memimpin penguatan Wall Street, diikuti saham-saham perdagangan rumah tangga. Saham-saham di sektor tersebut menggeliat karena investor mulai mempertimbangkan dampak pembatasan yang lebih ketat seiring dengan peningkatan kasus infeksi dalam beberapa bulan ke depan. 

Indeks Nasdaq 100 naik ke rekor tertinggi setelah saham Microsoft Corp, Amazon.com Inc, dan Adobe Inc naik. Investor bertaruh ke depan pasar mobil global akan dipimpin produk mobil listrik dalam beberapa dekade ke depan.

Di sisi lain, New York mengumumkan akan menutup sekolah dan Australia akan memulai lockdown paling ketat untuk membendung laju penyebaran virus. Di Tokyo, status kewaspadaan dinaikkan ke level tertinggi karena kasus infeksi mencapai 500 untuk pertama kalinya. 

Dengan kondisi saat ini, investor bergulat dengan seberapa lama dan seberapa parah pandemi akan terjadi di bulan-bulan mendatang. Memang, ada banyak tekanan ekonomi karena lockdown mengekang kegiatan ekonomi. Namun, para ilmuwan juga saat dengan cepat mengembangkan beberapa kandidat vaksin.

“Ada dorongan jangka pendek versus jangka panjang dan itulah yang dilihat investor saat ini,” kata Chris Gaffney, presiden pasar dunia di TIAA Bank seperti dikutip dari iBloombeg. 

Berikut perkembangan pasar terkini :

Saham

  • Indeks S&P 500 naik 0,4%
  • Indeks Stoxx Europe 600 turun 0,8%.
  • Indeks MSCI Asia Pasifik turun 0,2%.

Mata Uang

  • Indeks Spot Dolar Bloomberg merosot 0,2%.
  • Euro naik 0,2% menjadi $ 1,1877.
  • Pound Inggris sedikit berubah pada $ 1,3276.
  • Yen Jepang sedikit berubah pada 103,77 per dolar.

Obligasi

  • Imbal hasil obligasi 10-tahun AS turun dua basis poin menjadi 0,85%.
  • Imbal hasil obligasi 10-tahun Jerman turun dua basis poin menjadi -0,57%.
  • Imbal hasil obligasi 10 tahun Inggris turun satu basis poin menjadi 0,32%.

Komoditas

  • Minyak mentah West Texas Intermediate naik 0,2% menjadi $ 41,92 per barel
  • Emas melemah 0,3% menjadi $ 1,866.69 per ounce.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street Lockdown

Sumber : Bloomberg

Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top