Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ekonomi China Pulih, Harga Tembaga Terus Cetak Rekor

pada perdagangan Senin (16/11/2020) pada pukul 11.00 WIB harga tembaga di London Metal Exchange menguat 2,8 persen ke posisi US$7.179 per ton, tertinggi sejak Juni 2018.
Finna U. Ulfah
Finna U. Ulfah - Bisnis.com 16 November 2020  |  14:32 WIB
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov
Ilustrasi cincin tembaga. - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA - Harga tembaga masih berada di jalur kenaikan dan terus menyentuh level tertingginya didukung oleh penurunan persediaan di China sebagai importir terbesar dunia, dan tren pelemahan dolar AS.

Berdasarkan data Bloomberg, pada perdagangan Senin (16/11/2020) pada pukul 11.00 WIB harga tembaga di London Metal Exchange menguat 2,8 persen ke posisi US$7.179 per ton. Level itu merupakan yang tertinggi sejak Juni 2018.

Sementara itu, pada perdagangan yang sama pukul 13.48 WIB di bursa Comex harga tembaga untuk kontrak Maret 2021 naik 2,37 persen ke posisi US$3,26 per pon.

Adapun, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan greenback di hadapan sekeranjang mata uang utama bergerak melemah 0,16 persen ke posisi 92,607. Sepanjang tahun berjalan 2020, indeks dolar AS melemah 3,91 persen di saat harga tembaga reli dan menguat hingga 13,91 persen.

Untuk diketahui, pelemahan dolar AS akan menjadi katalis positif bagi tembaga dan komoditas lainnya karena harga akan menjadi lebih murah bagi pembeli berdenominasi selain dolar AS.

Selain itu, penurunan stok tembaga di Shanghai Futures Exchange telah memberikan sinyal bahwa penggunaan tembaga bagi konsumen utama China cukup kuat di tengah prospek pemulihan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

Di sisi lain, masalah ketatnya pasokan tembaga global di tengah meningkatnya permintaan dari China tetap menjadi perhatian utama pasar.

Pasar mengkhawatirkan lockdown di beberapa negara kembali terjadi akibat sinyal penyebaran Covid-19 yang kembali meluas dan dapat mengganggu produksi lebih lanjut.

Tidak hanya itu, operasional tambang Candelaria Lundin Mining Corp. terhenti menyusul aksi mogok kerja dari serikat pekerja yang telah berlangsung selama 4 pekan berturut-turut.

Analis RJO Futures Frank Cholly mengatakan bahwa sentimen juga datang dari Peru, salah satu produsen tembaga terbesar dunia, terkait ketidakpastian politik yang telah menambahkan katalis positif tembaga.

“Berita seperti ini dari Peru dan Chile menjadi sinyal bullish untuk logam. Secara historis, kami sudah melihat apa yang bisa terjadi pada harga tembaga bila ada gangguan di wilayah itu,” ujar Cholly seperti dikutip dari Bloomberg, Senin (16/11/2020).

Sementara itu, Analis StoneX Natalia Scott-Gray mengatakan bahwa harga tembaga berpotensi terus mendapat dorongan dari harapan vaksin Covid-19 yang dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi global.

Untuk diketahui, Pfizer Inc mengatakan bahwa kandidat vaksinnya, yang sedang dikembangkan dalam kemitraan dengan BioNTech Jerman, lebih dari 90 persen efektif dalam mencegah Covid-19. Klaim tersebut didasarkan pada data dari 94 orang pertama yang terinfeksi virus dalam uji klinis skala besar Pfizer.

“Logam dasar sedang didukung oleh optimisme yang mendasari bahwa akan ada cahaya di ujung terowongan dari Covid-19 seiring dengan kemajuan yang sedang dibuat dari vaksin virus," papar Scott-Gray.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

china harga tembaga komoditas tembaga
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top