Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Fundamental Rupiah Kuat, Pelemahan Hanya Koreksi Sesaat

Ke depannya, rupiah diperkirakan bergerak stabil pada kisaran rendah Rp14.000 per dolar AS karena investor asing tampak akan terus masuk ke pasar obligasi Indonesia yang telah banyak ditinggalkan pada awal pandemi.
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 15 November 2020  |  19:42 WIB
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Karyawati menghitung uang dolar AS di Jakarta, Rabu (16/9/2020). Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Aliran modal masuk asing (foreign capital inflow) ke pasar modal Tanah Air turut menjadi pendorong penguatan rupiah setelah Pemilihan Presiden AS pada awal bulan ini. 

Ke depannya, rupiah diperkirakan bergerak stabil pada kisaran rendah Rp14.000 per dolar AS karena investor asing tampak akan terus masuk ke pasar obligasi Indonesia yang telah banyak ditinggalkan pada awal pandemi.

CIO - Fixed Income Manulife Aset Manajemen Indonesia Ezra Nazula mengatakan kemenangan Joe Biden dalam Pilpres AS yang mendorong aliran modal masuk ke pasar negara berkembang menjadi salah satu katalis yang mengurangi volatilitas di pasar global.

Inflow yang masuk ke negara berkembang ini akan memperkuat nilai tukar. Dolar AS melemah, sementara nilai tukar emerging markets salah satunya rupiah menguat,” kata Ezra kepada Bisnis, pekan lalu.

Ezra menyebut pihaknya sudah memperkirakan aliran modal asing untuk masuk ke pasar Indonesia mulai Oktober. 

Berdasarkan data kepemilikan Surat Berharga Negara (SBN) rupiah yang dapat diperdagangkan dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan (DJPPR), aliran modal asing yang masuk ke pasar obligasi domestik mencapai Rp20,19 triliun pada bulan lalu.

Ke depannya, Ezra melihat jumlah aliran modal masuk asing itu akan terus bertambah mengingat yield obligasi pemerintah RI bertenor 10 tahun relatif masih tinggi di dunia dengan inflasi rendah dan suku bunga sebesar 4 persen.

“Kami melihat rupiah juga fundamentalnya masih sangat bagus ke depannya karena defisit neraca berjalan sudah lebih turun juga sekarang,” imbuh Ezra.

Adapun, nilai tukar rupiah terpantau terus turun sejak 2 November 2020. 

Mata uang Garuda sempat menyentuh titik terbaiknya pada level Rp14.058 per dolar AS pada 10 November 2020 sebelum terkoreksi kembali menjadi Rp14.170 per dolar AS pada akhir pekan lalu.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah nilai tukar rupiah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top