Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kasus Jouska Bikin Investor Beralih ke SBN? Berikut Penjelasannya

Kenaikan minat masyarakat terhadap obligasi ritel ditopang oleh literasi finansial yang semakin baik seiring dengan sosialisasi yang dilakukan pemerintah.
Lorenzo A. Mahardika & Dhiany Nadya Utami
Lorenzo A. Mahardika & Dhiany Nadya Utami - Bisnis.com 29 Oktober 2020  |  17:10 WIB
Ilustrasi Aplikasi Jouska. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti
Ilustrasi Aplikasi Jouska. Bisnis - Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Meningkatnya literasi dan kesadaran masyarakat dalam berinvestasi menjadi faktor utama kenaikan angka penjualan obligasi ritel sepanjang tahun 2020. Tren positif ini pun dapat berlanjut seiring dengan masih banyaknya pasar potensial yang belum tergarap.

Berdasarkan data yang diolah Bisnis pada Kamis (29/10/2020), hasil penjualan obligasi ritel pada tahun 2020 telah mencapai Rp71,36 triliun dari lima seri obligasi ritel yang telah ditawarkan, yakni SBR009, SR012, ORI017, SR013, dan ORI018.

Angka penawaran tertinggi dicatatkan oleh SR013 yang menghimpun penjualan senilai Rp25,67 triliun. Penjualan obligasi ritel pada 2020 masih menyisakan satu seri, ST007, yang akan ditawarkan dalam waktu dekat.

Perolehan penjualan obligasi ritel Indonesia pada tahun ini jauh lebih baik dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Pada 2019 lalu, pemerintah menghimpun dana sebesar Rp49,7 triliun dari 10 seri obligasi yang ditawarkan.

Head of Economics Research Pefindo Fikri C. Permana mengatakan, kenaikan minat masyarakat terhadap obligasi ritel ditopang oleh literasi finansial yang semakin baik seiring dengan sosialisasi yang dilakukan pemerintah.

Selain itu, kasus-kasus yang melibatkan pihak pengelola dana juga semakin menambah pengetahuan masyarakat.

“Contohnya seperti kasus financial planner Jouska beberapa waktu lalu. Ini membuka mata masyarakat tentang apa saj aset-aset berisiko dan aset-aset apa yang terbilang aman untuk ritel,” jelasnya, Kamis (29/10/2020).

Fikri melanjutkan, kasus-kasus tersebut membuat masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik terhadap dunia investasi bila dibandingkan dengan beberapa tahun yang lalu.

Meningkatnya pemahaman masyarakat, lanjut Fikri, mengakibatkan naiknya keingintahuan para calon investor tersebut terhadap obligasi ritel. Hal inipun dipermudah dengan gencarnya edukasi dan sosialiasasi yang dilakukan pemerintah Indonesia.

“Potensi pengembangan pasar obligasi ritel masih sangat besar di Indonesia. Dengan pengembangan yang baik, kami yakin pasar ini dapat bersaing dengan obligasi ritel di AS dan Jepang yang sudah sangat maju,” pungkasnya.

Sebagai informasi, kisruh yang melanda perusahaan perencana keuangan PT Jouska Financial Indonesia (Jouska) terus berlanjut. Sebanyak 35 klien baru saja melaporkan kerugian ke pihak kepolisian dengan estimasi kerugian mencapai Rp3 miliar.

Advokat Rinto Wardana yang menjadi kuasa hukum para korban menyampaikan bahwa per Rabu (21/10/2020) jumlah pelapor menjadi 35 orang. Jumlah ini bertambah 10 orang saat pelaporan pertama kali ke Polda Metro Jaya, Kamis (3/9/2020) lalu.

Kerugian yang dialami masing-masing korban berbeda-beda, mulai dari Rp100 juta hingga Rp500 juta. Dengan bertambahnya korban yang melapor, jumlah kerugian yang tercatat menjadi sekitar Rp3 miliar.

Adapun, kata Rinto, hari ini sejumlah perwakilan pelapor datang ke Polda Metro Jaya untuk memenuhi agenda Berita Acara Pemeriksaan (BAP) pertama yakni pemberian berkas ke pihak berwajib.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi sbn Jouska
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top