Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Berkat La Nina, Harga Gas Alam Melaju

Harga gas alam telah melesat 70 persen sejak Juni lalu ketika pemberlakuan pemangkasan produksi minyak berdampak pada penurunan pasokan gas alam yang berasal dari sumur-sumur penghasil minyak.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 23 Oktober 2020  |  06:00 WIB
Pompa angguk di ladang minyak dan gas - Bloomberg/Andrey Rudakov
Pompa angguk di ladang minyak dan gas - Bloomberg/Andrey Rudakov

Bisnis.com, JAKARTA – Harga gas alam kembali ke kisaran US$3,00 per MMbtu untuk pertama kalinya sejak 2019. Penurunan jumlah cadangan gas alam serta siklus cuaca La Nina berpotensi menjaga tren positif ini.

Berdasarkan data dari Bloomberg pada Kamis (22/10/2020), harga gas alam turun 0,5 persen ke US$3,008 per million British thermal units (MMbtu) di New York. Meski terkoreksi, harga gas alam berhasil bertahan di level US$3 per MMbtu selama dua hari beruntun.

Sebelumnya, pada Rabu (21/10/2020) harga gas alam melonjak 3,78 persen ke level US$3,023 per MMbtu. Level tersebut merupakan settlement price tertinggi sejak Januari 2019.

Adapun harga gas alam telah melesat 70 persen sejak Juni lalu ketika pemberlakuan pemangkasan produksi minyak berdampak pada penurunan pasokan gas alam yang berasal dari sumur-sumur penghasil minyak.

Para pelaku pasar cenderung optimistis menatap prospek reli positif berkelanjutan komoditas ini setelah para penghasil minyak serpih  memangkas output seiring dengan pengurangan produksi minyak dunia. Penurunan pasokan tersebut berdampak pada pembalikan keadaan pasar gas alam yang terus tertekan selama beberapa waktu.

Sementara itu, prospek permintaan terhadap gas alam kian benderang seiring dengan siklus cuaca La Nina pada akhir tahun ini. Siklus tersebut akan berdampak pada perubahan cuaca menjadi lebih dingin di wilayah utara Amerika Serikat hingga awal 2021 mendatang.

Lebih lanjut, data dari National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA) menyatakan, pada periode 29 Oktober hingga 4 November 2020, wilayah Barat Tengah (Midwestern) dan Timur Amerika Serikat akan terkena cuaca yang lebih dingin dari rata-rata. 

Turunnya temperatur cuaca dinilai akan berimbas pada permintaan bahan bakar pemanas ruangan yang lebih tinggi.

Dari hasil survey yang dilakukan Bloomberg, sebanyak 9 analis memperkirakan rerata jumlah persediaan gas alam akan bertambah 52 miliar kaki kubik pada pekan lalu. Jumlah ini jauh dibawah rata-rata persediaan gas alam dalam lima tahun terakhir dengan penambahan 75 miliar kaki kubik.

Data tersebut akan dibandingkan dengan rilis dari Biro Administrasi Energy (Energy Information Administration) pada Kamis waktu setempat. Sedangkan, laporan dari Commodity Futures Trading Commission menyatakan, para pengelola investasi menambah pertaruhan bullish pada komoditas ini hingga ke level tertinggi sejak Mei 2017.

Senior Vice President of Energy Trading di INTL FCStone Tom Saal mengatakan, prediksi cuaca yang dikeluarkan NOAA mengirimkan sinyal bullish terhadap prospek harga gas alam.

“Para pelaku pasar mengharapkan cuaca dingin di wilayah tersebut akan datang. Apabila hal tersebut tidak terjadi, reaksi dari pasar akan negatif,” jelasnya.

Adapun, jumlah ekspor gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) milik Amerika Serikat mengalami kenaikan seiring dengan pemulihan ekonomi global. Kenaikan harga dan permintaan terjadi pada wilayah Eropa dan Asia, pangsa pasar ekspor terbesar gas alam cair milik Negeri Paman Sam.

Aliran gas alam dari terminal LNG di AS terpantau naik 8,6 miliar kaki kubik pada Rabu waktu setempat, atau level tertinggi dalam enam bulan terakhir.

Sementara itu, pengiriman gas alam ke terminal ekspor juga mulai meningkat setelah lalu lintas perkapalan di pabrik milik Cheniere Energy Inc di Sabine Pass, Louisiana kembali berjalan normal setelah pembatasan akibat badai di wilayah itu.

Devin McDermott, Analis Morgan Stanley dalam laporannya pada Kamis (22/10/2020) menyatakan, rebound harga gas alam dapat berlangsung dalam beberapa waktu ke depan. Hal tersebut menurutnya akan ditopang oleh berkurangnya persediaan gas alam cair yang dimiliki AS.

McDermott memperkirakan penurunan pasokan gas alam dan meningkatnya permintaan akan berimbas pada jumlah pemakaian gas alam terbesar dalam satu dekade terakhir.

“Cuaca yang lebih dingin dari biasanya akan berdampak pada persediaan cadangan gas alam AS terkecil sepanjang sejarah. Hal ini berpotensi membawa reli harga gas alam ke level US$5,00/MMbtu atau lebih tinggi lagi,” jelasnya.

Meski demikian, McDermott juga memperkirakan reli harga ini hanya akan berlangsung dalam jangka pendek. Harga gas alam dalam jangka panjang kemungkinan akan kembali stagnan yang disebabkan oleh prediksi pertumbuhan menengah dari para produsen gas.

“Sentimen tersebut akan menopang harga gas alam pada indeks acuan di AS mendekati US$2,750 per MMbtu,” katanya.

Analis Analis Capital Futures Wahyu Laksono mengatakan pergerakan harga gas alam merupakan salah satu yang terburuk diantara komoditas sektor energi. Rebound harga yang dialami oleh gas alam juga lebih lamban dibandingkan komoditas energi lainnya.

“Dibandingkan dengan komoditas lain seperti minyak, rebound harga gas alam jelas terlambat rebound. Harga minyak mulai rebound pada April, sementara gas alam baru dimulai pada Juni lalu,” katanya.

Wahyu melanjutkan, peluang kelanjutan reli positif harga gas alam masih cukup terbuka. Hal tersebut didukung oleh sejumlah katalis fundamental seperti ancaman oversupply yang berkurang.

Ia menjelaskan, pemakaian gas alam di wilayah AS akan kembali meningkat memasuki musim dingin di akhir tahun ini. Hal ini akan berdampak pada berkurangnya persediaan cadangan gas alam yang ada.

Berkurangnya persediaan juga disebabkan oleh Badai Delta yang menghantam wilayah AS beberapa pekan lalu. Kondisi cuaca buruk tersebut menghantam sektor produksi gas alam yang mengakibatkan munculnya isu defisit gas alam.

Selain itu, isu pemilihan presiden AS juga memainkan peran dalam pergerakan harga gas alam. Kemungkinan kemenangan kandidat presiden dari Partai Demokrat, Joe Biden, dinilai akan melambungkan kembali harga gas alam.

Wahyu menerangkan, kemenangan Partai Demokrat dapat mengubah kebijakan Negeri Paman Sam menjadi lebih ramah lingkungan dengan mendukung penggunaan gas alam. Hal ini pernah terjadi pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama yang menghidupkan industri ini hingga harga gas alam pernah mencapai US$6,482 per MMbtu pada 2014 lalu.

“Kemenangan Partai Demokrat baik di pemilihan presiden dan anggota legislatif akan mengakibatkan penurunan produksi gas alam AS dalam beberapa tahun ke depan. Penurunan produksi ini berpotensi mmbuat harga gas alam naik drastis,” jelasnya.

Lebih lanjut, Wahyu mengatakan pergerakan harga gas alam memang sangat fluktuatif. Variasi harga yang tinggi ini akan menarik pelaku pasar ke industri gas alam seiring dengan volatilitas yang tercipta dari pergerakan harga komoditas tersebut.

“Kemungkinan range harga di sisa tahun ini di kisaran US$2,5 hingga US$3 per mmbtu,” ungkapnya.

Ia tidak menutup kemungkinan lonjakan drastis harga gas alam dapat terjadi pada November hingga Desember mendatang. Hal ini akan terjadi seiring dengan tren rebound komoditas energi serta dorongan spekulatif gas alam yang berpotensi melambungkan harga ke kisaran US$4 dan bahkan US$5 per MMbtu.

Hal senada juga diungkapkan oleh Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim. Menurutnya, kenaikan harga gas alam berpotensi kembali terjadi di sisa dua bulan tahun 2020 meskipun tidak signifikan. Hal ini disebabkan oleh faktor cuaca dingin yang akan meningkatkan permintaan terhadap pemanas ruangan.

Di sisi lain, pemerintah AS juga diperkirakan akan memberi stimulus di sektor gas alam untuk menggerakkan sektor ini. Hal ini dinilai akan menjadi katalis positif bagi harga gas alam hingga akhir tahun 2020.

“Keringanan ini akan meningkatkan permintaan terhadap gas alam. Potensi harga gas alam menembus US$5 per MMbtu masih terbuka,” tambahnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak gas harga minyak mentah wti
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top