Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Pasokan di AS Naik, Harga Minyak Tergelincir

The American Petroleum Institute melaporkan pasokan minyak mentah di Negeri Paman Sam naik hampir 600.000 barel pekan lalu, berlawanan dengan survei Bloomberg yang memperkirakan pasokan turun
Dwi Nicken Tari
Dwi Nicken Tari - Bisnis.com 21 Oktober 2020  |  20:26 WIB
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris
Tangki penyimpanan minyak di California, Amerika Serikat - Bloomberg/David Paul Morris

Bisnis.com, JAKARTA - Pasokan minyak mentah di Amerika Serikat menahan laju penguatan harga minyak di tengah optimisme kesepakatan stimulus fiskal.

 

Menurut sumber yang enggan disebutkan identitasnya, The American Petroleum Institute melaporkan pasokan minyak mentah di Negeri Paman Sam naik hampir 600.000 barel pekan lalu. 

 

Kenaikan itu kontras dengan survei Bloomberg yang memperkirakan pasokan minyak mentah akan turun di AS. Adapun, data pasokan minyak AS akan dirilis secara resmi hari ini, Rabu (21/10/2020), waktu setempat.

API melaporkan pasokan minyak di AS naik menjadi 1,17 juta barel pekan lalu. Apabila data tersebut dikonfirmasi oleh Pemerintah AS, maka posisi itu menjadi kenaikan untuk pekan kelima secara berturut-turut.

Harga minyak mentah Brent untuk pengiriman Desember pun turun 58 sen menjadi US$42,58 per barel pada pukul 13.37 di London. Harga sempat menguat 54 sen per barel didorong oleh optimisme tercapainya kesepakatan paket stimulus fiskal di AS.

Sementara itu, harga minyak WTI untuk pengiriman Desember terdepresiasi 57 sen atau 1,4 persen menjadi US$41,13 per barel.

Head of Commodities Strategy Saxo Bank Ole Hansen mengatakan harga minyak Brent akan tetap bertahan pada level terendah US$40-an per barel pada kondisi dolar AS yang melemah dan perundingan stimulus AS yang tak kunjung rampung.

“Pasar fokus ke pasokan dan secara umum ini semua [koreksi harga] masuk akal karena outlook permintaan masih suram,” kata Hansen, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (21/10/2020).

Adapun, pandemi virus corona dan pasokan melimpah dari Libya telah menjadi penghambat laju harga minyak.

Walaupun China masih menopang dari sisi permintaan, namun tampaknya tak cukup kuat untuk menutupi prospek penurunan konsumsi minyak di negara-negara Eropa.

Koalisi negara produsen dan eksportir minyak yang tergabung dalam OPEC+ bahkan telah mengingatkan akan adanya outlook yang kurang cerah untuk harga minyak di masa depan.

Pelaku pasar pun masih menunggu akankah OPEC+ kembali menaikkan produksi minyak pada Januari atau akan terus menjaga industri dari kelebihan pasokan seperti saat ini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Harga Minyak
Editor : Rivki Maulana
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top