Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Vale (INCO) dan Antam (ANTM) Ekspansi Smelter Nikel HPAL Bernilai Triliunan

Vale Indonesia (INCO) dan Aneka Tambang (ANTM) berencana mengembangkan smelter dengan teknologi tinggi untuk meningkatkan kadar nikel.
Denis Riantiza Meilanova & Hafiyyan
Denis Riantiza Meilanova & Hafiyyan - Bisnis.com 15 Oktober 2020  |  09:59 WIB
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat
Pekerja melakukan proses pemurnian dari nikel menjadi feronikel di fasilitas pengolahan dan pemurnian (smelter) Pomalaa milik PT Aneka Tambang (ANTAM) Tbk, di Kolaka, Sulawesi Tenggara, Selasa (8/5/2018). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA — Dua emiten pertambangan mineral, PT Vale Indonesia Tbk. dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) merencanakan ekspansi smelter nikel dengan teknologi hidrometalurgi atau (high pressure acid leach/HPAL) untuk pengolahan bijih nikel kadar rendah.

Berdasarkan catatan Bisnis, INCO berencana untuk membangun smelter nikel HPAL di Pomalaa, Sulawesi Tenggara, yang diperkirakan rampung pada 2025.

Proyek smelter itu diperkirakan membutuhkan investasi sekitar US$2,5 miliar. Dengan estimasi kurs Rp14.700, nilai investasi itu berkisar Rp36,75 triliun.

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat terdapat 6 proyek smelter HPAL dengan total investasi senilai US$5,13 miliar.

Rata-rata belanja modal (capital expenditure/capex) per ton nikel sekitar US$19.000. Total kapasitas keluaran enam proyek tersebut sebesar 246.774 ton nikel.

Enam smelter HPAL tersebut digarap oleh PT Halmahera Persada Legend, PT Adhikara Cipta Mulia, PT Smelter Nikel Indonesia, PT Vale Indonesia, PT Huayue, dan PT QMB. Mayoritas proyek ditargetkan mulai beroperasi pada 2021.

"Proyek smelter HPAL merupakan proyek yang sensitif disebabkan nilai capex yang besar, bahkan lebih besar daripada RKEF [rotary kiln-electric furnace]," ujar Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Tata Kelola Mineral dan Batubara Irwandy Arif dalam webinar, Selasa (13/10/2020).

Nilai belanja modal smelter HPAL berada pada kisaran US$65.000 per ton nikel, sedangkan smelter RKEF pada kisaran US$13.000 per ton nikel.

Selain enam proyek HPAL yang tengah berjalan tersebut, MIND ID dan Aneka Tambang, juga berencana mengembangkan pabrik HPAL dan RKEF di Maluku Utara atau Konawe Utara.

Group CEO MIND ID Orias Petrus Moedak mengatakan bahwa proyek penghiliran nikel ini sebagai salah satu upaya pemenuhan rantai nilai industri baterai kendaraan listrik dalam negeri.

"Ini nilai proyek US$2 [miliar]—US$3 miliar kisarannya," imbuhnya. Artinya, nilai investasi yang dibutuhkan berkisar Rp29,4 triliun - Rp44,1 triliun.

MIND ID atau PT Indonesia Asahan Aluminium (Persero) memegang 65 persen saham Antam. Inalum pun mengempit 20 persen saham Vale Indonesia, setelah merampungkan transaksi akuisisi senilai Rp5,52 triliun pada 7 Oktober 2020.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

antam smelter vale indonesia tbk
Editor : Hafiyyan
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top