Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Kino Indonesia (KINO) Ungkap Alasan Likuidasi dan Divestasi Lini Makanan Hewan

Meskipun melakukan divestasi, perseroan tidak menyangkal bahwa lini bisnis makanan hewan sendiri cukup potensial ke depannya. 
Ria Theresia Situmorang
Ria Theresia Situmorang - Bisnis.com 14 Oktober 2020  |  10:13 WIB
PT Kino Indonesia Tbk - kino.co.id
PT Kino Indonesia Tbk - kino.co.id

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten konsumer PT Kino Indonesia Tbk. (KINO) angkat bicara perihal likuidasi perusahaan patungan PT Kino Pet World Indonesia (KPI) dan divestasi pada PT Kino Pet World Marketing Indonesia (KPMI).

Direktur Keuangan sekaligus Sekretaris Perusahaan Kino Indonesia Budi Muljono menyatakan likuidasi dan divestasi tersebut terutama disebabkan tidak tercapainya kesepakatan antar pihak.

"Intinya likuidasi dan divestasi itu terjadi karena sudah tidak ada kesepahaman dengan shareholder lain dimana perusahaan ini merupakan perusahaan patungan," ungkap Budi kepada Bisnis, Selasa (13/10/2020). 

Namun, ia tidak menyangkal bahwa lini bisnis makanan hewan sendiri cukup potensial ke depannya. 

"Sementara bisnis makanan hewan sendiri seharusnya masih memiliki prospek di masa depan," sambungnya. 

Sebagai informasi, emiten berkode saham KINO tersebut mengumumkan likuidasi KPI sekaligus pengakhiran perjanjian usaha dengan Wah Kong Corporation Sdn. Bhd.

KPI pada awalnya didirikan dengan tujuan untuk mendirikan pabrik makanan hewan di Indonesia namun hingga saat ini pendirian pabrik tersebut belum terealisasikan.

Di saat yang bersamaan juga, KINO melakukan penandatangan conditional share sale and purchase agreement (CSPA) atau perjanjian jual beli saham bersyarat dalam rangka penjualan seluruh saham yang dimiliki perseroan atas KPMI.

Dengan aksi korporasi ini, perseroan tidak lagi memiliki kendali atas KPMI baik dalam hal penetapan kebijakan perusahaan maupun pengambilan keputusan strategis. Adapun, dana segar yang didapatkan perseroan atas divestasi tersebut adalah sebesar Rp10 miliar.

Dikutip dari laman resmi Wah Kong, perusahaan ini sebenarnya bergerak di bidang telekomunikasi dan ritel fotografi serta distribusi yang didirikan pada tahun 1979.

Perseroan memulai bisnis distribusi fast moving consumer goods dan menjajal bisnis produksi makanan hewan dengan jenama ProDiet yakni makanan kucing pada tahun 2006 yang kini telah menjadi brand makanan kucing ternama di Malaysia.

Setelah sukses dengan ProDiet, perusahaan juga menghadirkan produk ProBalance yang merupakan jenama produk makanan anjing pada tahun 2011. Selain ProDiet dan ProBalance, Wah Kong juga memiliki portofolio produk makanan kucing lainnya yakni Delizios. 

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

divestasi kino indonesia
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top